News

Elis Tiani Owner Warung Makan Kembang Di Jember Berharap Pemerintah Bantu Usaha Kulinernya Agar Dapat Bertahan

Jakarta, Owner Warung Makan Kembang sekaligus Peninjau IWAPI Jember, Elis Tiani, menghadiri Musyawarah Besar (Mubes) Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI), pada hari Senin (2/11/2026) di Hotel Borobudur Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, Elis menyampaikan berbagai tantangan yang dihadapi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya perempuan yang bergerak di sektor kuliner.

Dalam wawancara dengan awak media, Elis Tiani mengungkapkan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam mempertahankan perekonomian keluarga, terutama ketika kondisi ekonomi sedang mengalami tekanan. Menurutnya, banyak perempuan pengusaha yang merintis usaha dari skala kecil hingga mampu mengembangkan bisnis secara mandiri.

Ia menceritakan, perjalanan usaha kuliner tidak selalu mudah. Pelaku UMKM harus menghadapi kenaikan harga bahan baku dan kebutuhan operasional, sementara menaikkan harga jual bukan perkara sederhana karena harus mempertimbangkan daya beli konsumen serta persaingan dengan usaha sejenis.

“Rata-rata perempuan ini berjuang sendiri dengan kemampuan sendiri. Ketika ekonomi sedang terpuruk, bagaimana kita bisa bertahan? Ada yang awalnya hanya memasak sendiri, kemudian mencoba mengembangkan usaha. Kami bukan semata-mata mencari keuntungan besar, tetapi bagaimana usaha ini tetap berjalan dan bisa bertahan,” ungkap Elis.

Ia menambahkan, kondisi semakin menantang ketika harga bahan baku terus meningkat. Di satu sisi, pelaku usaha dituntut melakukan penghematan agar operasional tetap berjalan. Namun, di sisi lain, mereka juga harus memenuhi kewajiban perpajakan dan mengikuti berbagai ketentuan pemerintah.

Menurut Elis, pelaku UMKM kuliner membutuhkan perhatian dan kebijakan yang mempertimbangkan kondisi nyata di lapangan. Ia berharap pemerintah dapat memberikan kemudahan serta tidak menambah beban yang justru menyulitkan keberlangsungan usaha kecil.

“Kalau harga bahan baku naik, kita mau menaikkan harga jual juga sulit karena kompetitor banyak. Akhirnya kita harus pintar-pintar menghemat. Tetapi kita juga harus taat pajak dan mengikuti peraturan pemerintah. Kalau semua beban ditambahkan, tentu sangat berat bagi pelaku UMKM kecil,” jelasnya.

Lebih lanjut, Elis berharap kehadiran IWAPI sebagai organisasi perempuan pengusaha dapat menjadi wadah untuk menyatukan aspirasi dan memperjuangkan kepentingan para pelaku usaha, khususnya UMKM perempuan.

Menurutnya, melalui organisasi yang memiliki jaringan luas dan suara kolektif, berbagai persoalan yang selama ini dihadapi pengusaha perempuan dapat lebih mudah disampaikan kepada pemerintah dan menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan.

“Harapan terbesar kami dengan bergabung dalam organisasi seperti IWAPI adalah memiliki komunitas yang besar sehingga suara kami bisa didengar pemerintah. Minimal aspirasi kami didengar dan ada perhatian terhadap kondisi UMKM. Kalau pemerintah mau mendengarkan, tentu kami berharap ada kebijakan yang bisa membantu,” tuturnya.

Elis juga menekankan bahwa perempuan memiliki kontribusi besar dalam menjaga ketahanan ekonomi keluarga. Ketika kondisi ekonomi keluarga mengalami kesulitan, perempuan sering kali mampu mengambil peran untuk mempertahankan sumber penghasilan dan memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.

Ia berharap pemberdayaan perempuan tidak hanya menjadi wacana, tetapi diwujudkan melalui kebijakan yang memberikan akses, perlindungan, pendampingan, serta kemudahan bagi perempuan dalam menjalankan usaha.

“Perempuan itu tangguh. Ketika suami sedang mengalami kesulitan ekonomi, perempuan masih bisa berusaha membantu mempertahankan keuangan keluarga. Karena itu, UMKM perempuan mestinya didukung dan dipermudah, bukan justru dibebani dengan berbagai aturan yang memberatkan,” tegasnya.

Melalui momentum Mubes IWAPI, Elis Tiani berharap organisasi tersebut semakin kuat dalam memperjuangkan aspirasi perempuan pengusaha di seluruh Indonesia. Ia juga berharap pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dapat membangun sinergi agar UMKM, khususnya usaha kuliner yang dikelola perempuan, mampu bertahan, berkembang, dan memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian nasional.

Loading