Setelah kuasai TANAH AIR, BAIK siap ekpansi ke ASEAN dengan puluhan brand ternama dari Indonesia
JAKARTA, Di balik pergerakan saham PT Bersama Mencapai Puncak Tbk (BAIK) yang terus menarik perhatian pelaku pasar, fakta mengejutkan mengenai peta bisnis perseroan akhirnya terbongkar ke publik. PT Anak Baik Sejahtera selaku pengendali utama melalui Anak Baik Corporation ternyata merupakan kekuatan tersembunyi alias “otak” di balik gurita bisnis kuliner raksasa yang menaungi puluhan brand resto populer milik deretan artis papan atas Indonesia. Tidak sekadar mengelola jaringan internal, ekosistem masif ini mengintegrasikan rantai pasok (supply chain) HORECA dari hulu ke hilir untuk mengendalikan 90 hingga 120+ outlet di seluruh negeri, sekaligus sukses melayani lebih dari 2 juta pelanggan setiap bulannya.
Gurita bisnis yang terungkap ini mencakup kolaborasi megah dengan para figur publik terkemuka, mulai dari Atta Halilintar & Aurel Hermansyah (Lamak Rasa), Praz Teguh (Warung Taburai yang kini agresif mengepakkan sayap hingga 25 cabang), Nunung Srimulat & Vicky Prasetyo (Mami Nungky), Melaney Ricardo (Sambal Penyetan), hingga duet legendaris King Abdi dan almarhum Babe Cabita (Dadar Beredar). Seluruh merek viral ini bergerak beriringan dengan legacy brand milik korporasi seperti Ayam Goreng Nelongso yang memiliki puluhan cabang, Geprek Kak Rose, hingga Bebek Carok. Sinergi ini membuktikan bahwa lini bisnis yang dikelola emiten BAIK memiliki diversifikasi portofolio yang sangat gemuk dan tidak bergantung pada satu atau dua merek saja.
Direktur Utama BAIK, Nanang Suherman, mengungkapkan bahwa strategi mencocokkan daya tarik public figure dengan keandalan sistem manufaktur adalah langkah taktis untuk mempercepat penetrasi pasar domestik secara masif. Melalui skema ini, seluruh brand besar tersebut diwajibkan menggunakan pasokan bahan baku eksklusif—seperti sembako, bumbu rempah, hingga ayam dan bebek olahan—langsung dari divisi supply chain pusat milik BAIK. Pola integrasi vertikal ini tidak hanya menjamin standarisasi mutu produk di tingkat regional, tetapi juga berhasil mengunci efisiensi biaya operasional pada level tertinggi yang berpotensi mempertebal profitabilitas korporasi.
Resiliensi ekosistem Anak Baik Corporation ini semakin kokoh dengan keterlibatan aktif lebih dari 100 UMKM melalui program inovatif “Tumbuh Bersama Mitra Binaan”. Langkah inklusif ini membuat pelaku usaha mikro ikut naik kelas karena mendapatkan akses teknologi logistik pangan yang setara dengan industri besar. Menatap sisa tahun 2026, agresivitas grup ini dipastikan belum akan mengendur seiring dengan matangnya persiapan ekspansi jaringan logistik ke kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) serta rencana besar untuk menembus pasar ekspor global memanfaatkan fasilitas pabrik sterilisasi makanan berteknologi tinggi yang sedang mereka kebut.
Aksi bongkar peta bisnis ini menjadi sinyal kuat bagi para investor di lantai bursa bahwa BAIK bukan lagi sekadar emiten pengelola restoran lokal, melainkan konglomerasi sektor F&B modern yang menguasai jalur distribusi dari hulu hingga ke meja makan konsumen. Konsistensi perusahaan dalam mengunci kontrak distribusi eksklusif dengan brand-brand besar berbasis komunitas publik ini diproyeksikan akan menjadi mesin pertumbuhan (growth engine) jangka panjang yang sangat menarik. Para pelaku pasar modal dipastikan akan mencermati lebih dalam seberapa besar lompatan kinerja keuangan BAIK ke depan seiring dengan semakin solidnya dominasi “kerajaan kuliner” tersembunyi ini di industri ritel nasional.(SY)



