News

Film Nobody Loves Kay Tayang Di Bioskop Indonesia Pada 30 Mei 2026

JAKARTA, Film drama remaja Nobody Loves Kay hadir bukan sekadar sebagai tontonan bertema e-sport, melainkan juga sebagai kritik terhadap pandangan lama yang masih menganggap dunia game tidak memiliki masa depan. Pesan tersebut mengemuka dalam gala premiere film yang digelar di Senayan City XXI, Jakarta Pusat, Kamis, (28/5/2026).

Film yang terinspirasi dari kisah nyata pro-player Mobile Legends ONIC Kairi itu sukses menghadirkan suasana emosional di dalam studio bioskop. Sejumlah penonton bahkan tampak menangis usai menyaksikan cerita perjuangan seorang anak muda yang harus melawan keraguan lingkungan demi mempertahankan mimpinya menjadi atlet e-sport profesional.

Nobody Loves Kay merupakan hasil kolaborasi ONIC, Folago Pictures, Migunani Cinema Cult, dan Qun Films bersama Visinema Pictures. Film tersebut mengangkat realita generasi muda yang memilih jalur hidup non-konvensional, tetapi kerap dipandang sebelah mata oleh lingkungan sekitar, termasuk keluarga sendiri.

Representasi Anak Muda yang Diremehkan
Produser M. Faisal Hibatullah mengatakan film ini dekat dengan pengalaman generasi muda yang sedang berjuang mengejar mimpi di tengah tekanan sosial dan ekspektasi masyarakat.

“Film ini merepresentasikan generasi Z yang punya mimpi non-konvensional. Menjadi gamer mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang tua. Padahal semua orang punya perjuangan untuk sampai di titik mereka sekarang,” ujar Faisal dalam sesi konferensi pers.

Menurut dia, karakter Kay menjadi simbol anak muda yang tetap bertahan meski sering diremehkan karena memilih jalan hidup berbeda.

“Kita ada di sini karena kita gigih dan yakin dengan mimpi kita sendiri. Film ini mewakili orang-orang yang pernah diremehkan, lalu mencoba membuktikan bahwa mereka bisa berhasil,” katanya.

Sementara itu, sutradara debutan Bernardus Raka menilai kisah Kay dipilih karena dekat dengan realita sosial anak muda masa kini, terutama mereka yang tumbuh tanpa privilege.

“Kay adalah anak pekerja migran yang lahir tanpa privilege. Bahkan mimpinya sering disepelekan, termasuk oleh orang tuanya sendiri. Namun dia tetap berani bermimpi,” ujar Bernardus.

Sebelum menggarap film layar lebar, Bernardus dikenal lewat sejumlah video musik untuk Hindia, Sal Priadi, dan Perunggu. Pendekatan visual emosional yang sebelumnya hadir dalam video musik disebut turut membentuk suasana intim di film ini.

Cast Soroti Pentingnya Persahabatan dan Support System
Selain mengangkat isu tentang mimpi dan tekanan sosial, Nobody Loves Kay juga menyoroti pentingnya persahabatan dan support system bagi anak muda.

Aktris Aurora Ribero yang memerankan karakter Amanda mengatakan tokohnya hadir sebagai sosok yang mencoba memahami ambisi Kay, sekaligus mengingatkan tentang realita kehidupan.

“Yang menarik dari Amanda dan Kay adalah mereka sama-sama punya ambisi besar dan berusaha saling memahami. Amanda memang punya cita-cita yang lebih umum, ingin jadi dokter, tapi itu tetap valid,” ujar Aurora.

Menurut dia, setiap anak muda memiliki bentuk perjuangan yang berbeda dan membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekat agar mampu bertahan menghadapi keraguan terhadap diri sendiri.

“Semua orang pasti pernah merasa ragu dan mempertanyakan diri sendiri. Karena itu, support system penting banget. Kehadiran orang-orang yang percaya kepada kita bisa membantu mengembalikan semangat untuk terus berjuang,” katanya.

Sementara itu, Rey Bong mengaku mengalami tantangan tersendiri saat memerankan karakter Ido yang keras kepala dan emosional.

“Lumayan susah karena saya jauh sekali dari karakter Ido. Saya harus mencari banyak referensi dan membangun emosinya pelan-pelan,” ujar Rey.

Ia mengatakan proses reading dan workshop bersama Bernardus Raka membuat hubungan para pemain menjadi lebih dekat sehingga chemistry persahabatan dalam film terasa lebih natural.

“Raka memberi ruang yang sangat bebas untuk kami bereksplorasi. Akhirnya hubungan kami bukan cuma sutradara dan pemain, tapi seperti sahabat,” katanya.

Angkat Dunia E-Sport ke Layar Lebar
Dukungan terhadap film ini juga datang dari pihak Visinema Pictures. Produser Angga Dwimas Sasongko menilai industri perfilman membutuhkan ruang baru bagi sineas muda untuk menghadirkan perspektif segar.

“Kadang industri film dianggap itu-itu saja. Padahal banyak talenta muda yang punya sudut pandang kuat dan layak diberikan ruang berekspresi,” kata Angga.

Menurut dia, Nobody Loves Kay bukan hanya berbicara tentang game, tetapi juga tentang keluarga, tekanan hidup, persahabatan, dan pencarian identitas anak muda.

Untuk mendalami cerita, tim penulis melakukan riset dengan berbincang langsung bersama keluarga pekerja migran serta mengunjungi Filipina guna memahami latar kehidupan Kairi dan dunia kompetitif Mobile Legends.

“Kami ingin ceritanya terasa nyata, bukan hanya soal game, tetapi juga tentang hubungan keluarga dan perjuangan anak muda mengejar mimpi,” ujar tim penulis skenario.

Kairi yang turut hadir dalam gala premiere mengaku terharu melihat perjalanan hidupnya diangkat ke layar lebar. Ia berharap film tersebut dapat menjadi motivasi bagi generasi muda agar tidak mudah menyerah.

“Saya berharap setelah menonton film ini, orang-orang tetap berani bermimpi dan tidak menyerah,” ujar Kairi.

Film ini turut dibintangi Bima Azriel, Joshia Frederico, hingga Basboi.

Adapun film Nobody Loves Kay dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 4 Juni 2026. Sebelum penayangan resmi, special screening akan digelar di Bandung, Medan, Jakarta, dan Bekasi pada 30–31 Mei 2026.