Ekbis

Sidak Hotel di Makkah, Ketua Timwas Haji Temukan Kamar Banjir hingga Fasilitas Wudu Minim

FAJAR METRO – Ketua Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pemondokan jemaah haji Indonesia di Hotel Buruz Hidayah, Makkah, pada Rabu (20/5/2026). Dalam tinjauan tersebut, Timwas menemukan sejumlah masalah krusial terkait kelayakan fasilitas hotel, mulai dari kamar yang kebanjiran, kerusakan lift, hingga minimnya fasilitas wudu dan area jemur pakaian. Cucun mengungkapkan bahwa Hotel Buruz Hidayah memang sudah masuk dalam catatan khusus Timwas sejak awal. Selain lokasinya yang cukup jauh dari Masjidil Haram, hotel ini terbilang jarang digunakan sehingga banyak fasilitas yang kurang memadai.

“Pada awal kedatangan, lift di Tower 4 bermasalah. Kemudian masalah desain kamar mandi yang rata dengan lantai luar, sehingga airnya meluber membasahi karpet kamar. Apalagi satu kamar diisi lima orang. Lama-kelamaan karpet menjadi bau dan mengganggu kenyamanan jemaah,” ungkap Cucun di lokasi pemondokan.

Temuan lainnya yang menjadi sorotan adalah tidak adanya fasilitas wudu yang layak di dekat musala hotel, seperti yang terjadi di Tower 6. Akibatnya, jemaah terpaksa mengangkat kaki ke wastafel cuci tangan.

Selain itu, ketiadaan area khusus untuk mencuci dan menjemur pakaian bagi 1.800 jemaah di satu tower juga menjadi masalah, mengingat adanya larangan menjemur di atap (rooftop) maupun rubanah (basement).

“Sebelum memutuskan hotel mana yang akan dipakai ke depannya, sarana pendukungnya wajib dipastikan. Musalanya, tempat wudu, tempat cuci, hingga tempat jemuran harus memadai,” tegas Wakil Ketua DPR RI tersebut.

Untuk mencegah berulangnya masalah akomodasi yang trial and error setiap tahunnya, Cucun mendesak pemerintah untuk mengubah sistem sewa pemondokan. Ia mengusulkan agar hotel-hotel yang sudah terbukti bagus pelayanannya dan dekat dengan Masjidil Haram dikontrak dalam jangka panjang.

“Pencarian hotelnya harus betul-betul diperhatikan. Kita punya pengalaman menyewa di Bakhutmah atau Jarwal yang lokasinya bagus, tetapi tahun selanjutnya dilepas lagi. Nanti kami di DPR akan mencari solusi bagaimana caranya agar hotel yang sudah terbukti bagus bisa kita booking tidak hanya untuk satu tahun, melainkan dikontrak jangka panjang, misalnya 5 atau 10 tahun,” urainya.

Meski memberikan catatan tebal pada aspek akomodasi, Timwas Haji DPR RI turut memberikan apresiasi tinggi terhadap perbaikan kualitas konsumsi jemaah tahun ini. Cucun menilai nasi yang disajikan tidak lagi keras dan lauk pauknya dimasak dengan bumbu khas Nusantara yang cocok dengan lidah jemaah Indonesia.

Terkait jarak Hotel Buruz Hidayah yang jauh, Cucun memastikan bahwa kompensasi berupa bus selawat rute langsung (direct) tanpa transit telah berjalan sesuai komitmen.

“Mengingat Buruz Hidayah telanjur disewa, kompensasinya adalah transportasi harus direct. Tidak boleh ada transit di Bakhutmah atau Aziziah. Alhamdulillah, rutenya murni langsung ke Terminal Jabal Ka’bah yang akses jalannya tidak terlalu jauh ke Masjidil Haram,” pungkasnya. (ra/eki/aha)