Dunia

Pemimpin Asia Sambut Jeda Konflik AS, Israel dan Iran dengan Optimisme hati-hati

FAJAR METRO – Sejumlah pemimpin negara di Asia menyambut gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dengan optimisme hati-hati, seraya berharap langkah tersebut membuka jalan bagi penyelesaian konflik yang lebih luas di Timur Tengah.

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyebut kesepakatan itu sebagai “perkembangan positif,” merujuk pada proposal 10 poin dari Iran yang disebut mendapat respons baik dari Washington.

“Proposal ini menjadi pertanda baik bagi pemulihan perdamaian dan stabilitas, tidak hanya bagi kawasan tetapi juga dunia,” tulis Anwar di platform X.

Ia menekankan bahwa penyelesaian jangka panjang harus mencakup stabilitas di Irak, Lebanon, dan Yaman, serta menyerukan diakhirinya krisis kemanusiaan di Gaza.

Anwar juga memuji Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif atas “diplomasi tanpa lelah dan berani,” serta menyoroti peran Islamabad dalam menjembatani berbagai pihak.

Sementara itu, Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara menyebut gencatan senjata sebagai “langkah positif” dan menekankan pentingnya deeskalasi lebih lanjut, menurut laporan Kyodo News.

Pemerintah Jepang berharap kesepakatan sementara tersebut dapat mengarah pada perjanjian yang final dan berkelanjutan.

Masih diperlukan langkah lanjutan

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese juga menyambut kesepakatan tersebut dan menegaskan pentingnya negosiasi untuk mengakhiri konflik.

“Pemerintah Australia telah lama menyerukan deeskalasi dan penghentian konflik,” ujarnya dalam pernyataan pada Rabu.

Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters menyebut pengumuman gencatan senjata sebagai “kabar yang menggembirakan,” namun mengingatkan masih banyak langkah penting yang harus dilakukan.

“Masih ada pekerjaan penting dalam beberapa hari ke depan untuk memastikan gencatan senjata yang berkelanjutan,” katanya.

Ia juga memuji peran Pakistan, Turkiye, dan Mesir dalam upaya diplomatik mencari solusi krisis.

Korea Selatan turut menyambut perkembangan tersebut dan menyatakan harapan agar pelayaran di Selat Hormuz dapat kembali aman, menurut laporan Yonhap News.

“Kami menyambut kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran serta dasar yang telah diletakkan untuk melanjutkan navigasi di Selat Hormuz,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Park Il.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan penghentian sementara serangan terhadap Iran selama dua pekan.

Australia dorong gencatan senjata dipatuhi

Albanese juga menyoroti kekhawatiran atas penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran serta serangan terhadap kapal komersial, infrastruktur sipil, dan fasilitas energi, yang memicu gangguan besar pada pasokan energi global dan kenaikan harga.

“Kami telah menegaskan bahwa semakin lama perang berlangsung, semakin besar dampaknya terhadap ekonomi global dan semakin tinggi biaya kemanusiaannya,” ujarnya.

Australia menyatakan terus bekerja sama dengan mitra internasional untuk mendukung upaya diplomatik membuka kembali jalur pelayaran vital tersebut dan memastikan pasokan penting dapat menjangkau kelompok rentan.

Canberra juga mengapresiasi peran mediasi negara-negara seperti Pakistan, Mesir, Turkiye, dan Arab Saudi dalam mendorong deeskalasi.

“Australia ingin melihat gencatan senjata ini dipatuhi dan konflik dapat diselesaikan,” tambahnya.(RA/AA)