Prabowo Sebut Iran ‘Keras Kepala’, Menlu Abbas Araghchi: Rakyat Iran Punya Prinsip Kuat
FAJAR METRO – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut rakyat Iran sebagai bangsa “keras kepala” memicu perhatian dalam dinamika hubungan diplomatik kedua negara.
Dalam penjelasannya, Prabowo menyampaikan bahwa sikap “keras kepala” tidak selalu bermakna negatif.
Dilansir dari ‘portalpurwokerto’ pernyataan Presiden Prabowo tersebut disampaikan pada 10 April 2026 di Jakarta saat memberikan arahan dalam forum pemerintahan.
Ia menilai, dalam konteks tertentu, sikap tersebut justru mencerminkan keteguhan dalam mempertahankan prinsip dan kedaulatan.
Ia pun mencontohkan rakyat serta pejuang Iran yang tetap bertahan meski menghadapi berbagai tekanan.
“Kadang-kadang keras kepala dalam suatu pekerjaan dibutuhkan. Rakyat Iran disebut keras kepala, tapi mereka tetap bertahan meski terus diancam,” ujar Prabowo.
Menanggapi pernyataan tersebut, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memberikan klarifikasi resmi.
Ia menegaskan bahwa istilah “keras kepala” yang sering dilekatkan kepada rakyat Iran sejatinya adalah bentuk keteguhan dalam menjaga kedaulatan dan prinsip bangsa.
“Kami memasuki setiap pembicaraan dengan penuh kehati-hatian. Bagi kami, menjaga kehormatan dan kepentingan nasional adalah prioritas utama,” tambahnya.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah, terutama terkait konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan sekutunya.
Kedua negara masih menjaga komunikasi melalui jalur diplomatik resmi, meskipun terdapat perbedaan pandangan dalam menyikapi isu global.
Menanggapi pernyataan tersebut, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memberikan klarifikasi resmi. Ia menegaskan bahwa istilah “keras kepala” yang sering dilekatkan kepada rakyat Iran sejatinya adalah bentuk keteguhan dalam menjaga kedaulatan dan prinsip bangsa.
“Yang disebut keras kepala bagi kami adalah keteguhan hati dalam mempertahankan kedaulatan. Prinsip bangsa Iran tidak dapat diperjualbelikan, baik demi kepentingan ekonomi maupun tekanan politik,” tegasnya dalam pernyataan kepada media internasional.
“Kami memasuki setiap pembicaraan dengan penuh kehati-hatian. Bagi kami, menjaga kehormatan dan kepentingan nasional adalah prioritas utama,” tambahnya.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah, terutama terkait konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan sekutunya.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada indikasi eskalasi konflik diplomatik secara langsung antara Indonesia dan Iran.
(Yp/PP/PR)



