24 June 2024
Nasional

Webiner Penuhi Dunia Maya Dengan NKRI Cinta Agama Damai

Jakarta, WEBINAR Kebangsaan , dengan Tema: “Bentengi Mahasiswa Dengan Pancasila Untuk Mencegah Radikalisme di Dunia Pendidikan”, dilakukan secara Virtual pada tanggal 3 september 2022, yang diikuti sekitar 5000 peserta masyarakat dan Mahasiswa/i melalui Zoom meeting ada 499 peserta, dan sisanya sebanyak 4500 orang melaui Youtube Agama Cinta, yang dilaksanakan atas Prakarsa Koordinator Agama cinta , Gus Sholeh MZ, sebagai rasa tanggung jawab berkembangnya Radikalisme di Bangku Kuliah.

Prakata Pelaksana, Gus Sholeh Mz, Koord Komunitas Lintas Iman AgamaCinta, menekan kan Pancasila adalah ideologi yang di dalamnya ada penguatan pemahaman agama dan nasionalisme. Ideologi itu menjadi landasan kuat untuk membangun rasa kebangsaan Nasional Indonesia sekaligus membentengi bangsa Indonesia dari ancaman terorisme, oleh karena itu Pancasila harus terus disosialisasikan dan diaplikasikan secara terus menerus untuk membentuk kepribadian masyarakat Indonesia yang kuat, penerapan ideologi Pancasila dalam setiap kurikulum pendidikan. Dengan penerapan ideologi Pancasila itu diharapkan bisa menjadi tolok ukur atau landasan dalam mengadopsi nilai-nilai yang berasal dari luar.

Selanjutnya Narasumber Prakata Ir. Riadi Budiman, ST, MT, MPd, Koordinator Pendikar Pancasila UNTAN, menyampaikan , Pancasila unggul dan keutamaan sebagai Pemersatu Bangsa, ada diluar Negeri ada yang agama sama suku sedikit berbeda, tapi syukurlah Indonesia dapat bersatu Bhineka tunggal Ika, dalam Perbedaan ada Persatuan. Sejak 2012 ada Pelajar pancasila, hingga Kalimantan Barat sangat Plural, miniature Indonesia, sebagai contoh secara Nasional.
Yang sudah berhasil 1.Tumbuhkan pendekar Pancasila,2.setiap orang selalu mencari Persamaan, tanpa cari perbedaan, serta 3.mengutamakan Persamaan Pandangan suku dan agama.

Acara WEBINAR dikelola Moderator Meydi Frans Paulus, dari Papua, dengan menampilkan Narasumber utama Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwahid, SE, MM, Direktur Pencegahan BNPT RI, dan Gus Islah Bahrawi,Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia.

Dengan mengucap salam Pancasila Narasumber melemparkan Narasi konsep Pancasila dan Bernegara, yang seharusnya sebagai Dasar Bangsa berdiri, tetapi terasa ada kelompok yang mengunakan agama mendogma idiologi kepada masyarakat untuk diajak melakukan keributan. Walau disadari dengan alasan mengutamakan Dogma agama yang mempengaruhi pikiran umat semua agama, melihat sejarah Negara-negara lain di dunia semua pemerintah dipecahkan oleh Dogma agama, hingga hukum bukan berkeadilan tapi menakutkan bagi Pemerintah yang menerapkan hukum bagi kehidupan sosial tapi tumpul ke kelompok tertentu.
Dari kitab Suci banyak banyak Narasi berdirinya sebuah Bangsa: ada kesepakatan Sosial bersama, hingga diwajibkan tunduk untuk mewujudkan Kesepakatan tersebut, dan makna Bangsa tersebut di Indonesia Para pahlawan bangsa sudah memiliki kesepakatan bersama Pancasila merupakan Idiologi, Falsafah, dan Dasar Negara Indonesia Terbentuk.

Mengamati Persoalan dunia saat, mereka tak punya Pancasila masih sering terjadi Konflik,hingga ada banyak Negara terinspirasi menerapkan substansi Pancasila sebagai pemersatu agar berhenti bertikai, dan berkonflik. Dapat dirasakan Hari ini di Indonesia bias Negara luar mampu menjalar ke masyarakat, hingga pengalaman kita beda pilihan Pilpres 2019, masa lalu masih terbekas dimasyarakat. Semua Negara yang menginginkan menguasai SDA Indonesia, menyadari kalau ingin menguasai Indonesia, kaumtersebut terobsesi dengan menumbangkan PBNU, dan Muhamdyah, kan melemahkan Pancasila dan Masyarkat terpecah dan Negara lemah.

DENSUS 88 sering diisuekan kaum tertentu berperang melawan agama mayoritas, padahal faktanya membasmi Terorisme yang selalu menyelimuti diri dengan agama Mayoritas seperti luar negeri agama hindu, agama Kristen tapi Indonesia agama Islam. Perlu kita pahami Negara homogen juga tidak menjamin kedamaian kala agama dijadikan tunggangan politik kekuasaan.

Pada saat Tanya jawab, dari Peserta Zoom Bapak James mahasiswa UT: Bagaiman cara kita menghapuskan Sistematik (TSM) Kebencian yang sudah kebiasaan di masyarakat ? dan Gibran Felmi Mahasiswa : Bagaimana cara menerapkan hukum pancasila pada Negara yang bergejolak akibat keberagaman? Mereka pasti juga ada alas an untuk bertikai?, Anis Kusuma Dewi, mhasiswa akuntansi : Gerakan berbasis agama banyak dilakukan , khususnya di Indonesia adakah usaha dari Pemerintah khususnya agama islam agar tidak terprovasi Radikal?, dan Wirda Pendekar Pancasila: Indonesia Negara beragama, tapi hanya di KTP, bagaimana Usaha Pemerintah?
Tanggapan dari Narasumber , Setiap manusia berpikir sesuai cara pandang, agama kalau ditafsirkan berupa idiologi, hingga terjadi disparitas/ pemisahan kelompok sering disebut Sekte kala idiologi Berbeda. Hinga kala ini tercampur aduk tanpa pola akan timbul berkembang permusuhan kebencian.
Dan ketika idiologi tersebut berbentuk sistematik, menimbulkan diparitas berujung perpecahan hegemoni politik, terimbas Semua pemeluk idiologi menanamkan ketetapan kepada golongannya, Tapi kalau Pancasila yang bukan berbasis agama, akan kuat menjadi Pemersatu hingga akan berkurang Disparitas walaupun itu berbentuk Idiologi.
Idiologi Pancasaila dari Sudut pandang Keutamaan Kemanusian serta tahap berikutnya Keadilan (Peraturan) dan Adab hinga dapat mempersatukan yang berbeda idiologi,untuk menggiring semua idiologi masyarakat menjadi Bangsa dan Negara yang mengakui Pancasila hingga ada kedamainan dan kemanusian.

Kebutuhan Negara Generasi Muda harus mengembalikan agama ke fitrah dasarnya bahwa Agama diturunkan untuk Kemanusian dan Kedamaian, hingga hegemoni tetap bersatu bukan disparitas.
Beliau menyatakan Saya Islam karena lahir di Madura hingga saya islam, coba saya lahir di Mexiko, agama saya akan beda. Jika saya anggap tempat lahir saya yang paling suci, berarti saya bukan beragama.

Marilah kita jadikan Agama kita jadi agama cinta, inti Pancasila jauh dari Kebencian yang selalu mengutamakan kemanusian terhadap sesame, berguna bagi manusia lainnya.

Beliau menambahkan Tiga Konsep Moral dasar : tempat Lahir,Agama, kelompok hanya dapat diperstukan oleh idiologi Negara yang mengutamakan Kemanusiaan dan kedamaian, itulah Pancasila. Sering disebut Lingkaran Negara. Itulah makna mengutamakan kesepakatan bersama. Itulah konsep lahirnya Pancasila adanya kesepakatan bersama tanggal 1 Juni 1945. Dan kini Pancasila mampu mampu jadi jembatan ruang yang tersekat, kala Pancasila jadi falsafah berbangsa dan bernegara.

Radikal adalah : pemikiran sekelompok orang yang mewujudkan Negara dalam negara, ini bukan konteks Positip, tapi konteks negative ingin mengganti Pancasila.

Perlu diketahui Khilafah nama nya Islam tapi konsepnya Romawi, hingga harus diwaspadai., dengan Closingstatement: Kalau kita Percaya Tuhan itu Esa maka kita semua punya Tuhan yang sama, perasaan hegemoni, harus diarahkan kearah kemanusian agar terimplemantasi Bhinneka tunggal ika. Jauhi pikiran negative yang dinarasikan orang yang menganggap mereka mengganggap diri paling murni.Narasi Negatif menggunakan agama hanya cari kepuasaan pribadi dan kekuasaan. Jadi mari tetap berpegang teguh pada Pancasila.

Pada akhir acara Ucapan terima-kasih dari Koord Cinta, mengungkapkan mohon- maaf dari Direktur BNPT yang menganggaap acara ini malam pukul 20.00 WIB, dan menghimbau jangan pernah lelah mencintai Indonesia yang luar biasa memiliki Pancasila, yang dipelajari menjadi idiologi mereka menghindari konflik. Ingat Founding father kita menganugerahkan sprituitas kebangsaan Panasila yaitu mampu mempersatukan Pulau , Suku dan Agama yang berbeda,
Kita lihat Uni Soviet terpecah, tapi Indonesia tetap bersatu dan mulai berdaulat walau banyak tantangan, kekuatan pengawal Pancaila ada di dua Orang besar yaitu Nahdlatul dan Muhammadyah, yang berjiwa Nasional, hingga para radikal sering menyerang kedua ormas tersebut mengganti Pancasila hingga Indonesia dapat dirubuhkan.

Jaman dulu belum masuki era komunikasi, hingga digitalisasi mampu mudah untuk melakukan dengan cepat idiologi melawan Pemerintah.Kalau ada narasi menyebarkan Kebencian, maka jauhi membaca , dan janga edar.

Adapun Harapan peserta WEBINAR dari Chat, di era sekarang ini, terutama dengan perkembangan dunia komunikasi melalui internet dan sosial media, pengaruh atau paham dari luar negeri sangat deras sekali masuk dalam setiap lini kehidupan. Karena itu dia menegaskan nilai dari luar tidak begitu saja diterapkan, terutama di dunia pendidikan, tetapi harus disaring dengan cermat.

Kalau ternyata tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, tentu saja tidak boleh digunakan di Indonesia,
Mahasiswa juga dituntut mempunyai imuntas dan daya tangkal yang kuat dalam menghadapi pengaruh dan ajakan radikal terorisme. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh kalangan mahasiswa, dalam rangka menangkal pengaruh paham dan ajaran radikal yakni :
1) tanamkan jiwa Nasionalisme dan kecintaan terhadap NKRI,
2) Perkaya wawasan keagamaan yang moderat, terbuka dan toleran,
3) Bentengi keyakinan diri dengan selalu waspada terhadap provokasi, hasutan dan pola rekruitmen teroris baik di lingkungan masyarakat maupun dunia maya,
4) Membangun jejaring dengan komunitas damai baik offline maupun online untuk menambah wawasan dan pengetahuan dan
5) bergabunglah di kelompok damai sebagai media komunitas dalam rangka membanjiri dunia maya dengan pesan-pesan perdamaian dan cinta NKRI.