20 May 2024
Nasional

KKP Terapkan Teknologi Kincir untuk Tingkatkan Survival Rate Kepiting Soka

LANGKAT, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menerapkan teknologi kincir melalui sistem mutilasi kepiting untuk meningkatkan tingkat kehidupan (survival rate) biota bercangkang tersebut. Penerapan dilakukan di Tambak Mutilasi dengan kincir air kelolaan Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Mentari Asoka Abadi di Langkat.

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) KKP I Nyoman Radiarta mengatakan, penerapan teknologi kincir tersebut melibatkan para penyuluh perikanan yang ada di bawah BRSDM KKP pada Selasa 4 Oktober lalu.

“Peran pelatihan dan penyuluhan menjadi sangat penting sekali tentunya untuk mengawal menjadikan masyarakat mendapat pengetahuan yang lebih baik dalam melakukan praktik di lapangan, yang dapat dilakukan melalui pelatihan dan tentunya ada percontohan. Oleh sebab itu di sini merupakan salah satu percontohan penyuluhan perikanan, khususnya untuk budidaya kepiting soka,” ujar Nyoman saat membuka kegiatan Temu Lapang Percontohan Penyuluhan Perikanan Budidaya Kepiting Soka (scllya serrata) di lokasi.

“Kalau percontohan pelatihan dan penyuluhan tentunya harus ada inovasi yang masuk dan teknologi baru yang diajarkan kepada pembudidaya. Teknologi introduksi yang diberikan di lokasi ini yaitu menggunakan kincir melalui sistem mutilasi kepiting sehingga diharapankan dapat meningkatkan tingkat kehidupan survival rate kepiting. Mutilasi berfungsi untuk mempercepat molting dari kepiting. Tadi saya sempat diskusi dan tanya-tanya dengan Pak Adrial (Ketua Pokdakan) itu panennya setiap hari. Ini menggerakkan ekonomi sangat sangat cepat sekali. Setiap hari bibit datang setiap hari molting setiap hari panen dengan menggunakan teknologi yang ramah lingkungan,” tambahnya.

Menurut Nyoman, kegiatan tersebut mendukung program prioritas KKP dalam membangun kampung perikanan budidaya, khususnya yang ada Langkat yang telah ditetapkan oleh KKP. Sekaligus mewujdukan program unggulan BRSDM yaitu SMART Fisheries Village (SFV). SMART sendiri merupakan singkatan dari Sustainable, Modernization, Acceleration, Regeneration, and Technology.

Senada dengannya, Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Puslatluh KP) BRSDM Lilly Aprilya Pregiwati mengatakan, pada 2023 sebagaimana program unggulan BRSDM, Puslatluh KP melalui Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Medan mengusulkan lokasi percontohan ini menjadi SFV. Untuk itu, sedang dilakukan identifikasi potensi SDA, SDM dan sumberdaya penunjang untuk usulan lokasi SFV tahun 2023 bersamaan dengan kegiatan temu lapang percontohan ini,

Dilaporkan Lilly, Percontohan Penyuluhan memiliki beragam tujuan. Pertama, memberi contoh inovasi metode budidaya kepiting soka dengan sistem mutilasi di tambak dengan penambahan kincir air di tingkat lapangan. Kedua, meningkatkan produktivitas dan pendapatan pelaku budiadaya khususnya anggota Pokdakan. Ketiga, mempercepat adopsi teknologi sistem mutilasi dalam budidaya kepiting soka untuk meningkatkan hasil produksi dan memenuhi kebutuhan pasar. Keempat, menjadikan Pokdakan Asoka Abadi sebagai percontohan untuk para pelaku perikanan.

Waktu pelaksanaannya dimulai sejak April 2022, dengan tahapan terdiri dari pengusulan proposal percontohan, penentuan lokasi percontohan, pengadaan bahan percontohan, pembangunan sarana dan prasarana, proses budidaya/produksi, temu lapang, serta bimbingan tindak lanjut.

“Budidaya budidaya kepiting soka telah berjalan dan panen empat siklus dan hari ini panen siklus kelima yang akan dijelaskan oleh penyuluh perikanan dan pelaksana kegiatan percontohan,” ungkap Lilly.

Kegiatan temu lapang percontohan tersebut diselenggarakan secara hybrid, yaitu luring di Desa Alur Dua Baru, Kecamatan Sei Lepan, Langkat, serta daring melalui aplikasi zoom dan live streaming youtube di channel BPPP Medan. Masyarakat masih dapat menyaksikannya melalui tautan https://www.youtube.com/watch?v=6J1Ce4H31Q4.

Kegiatan ini mendapat apresiasi dari Pemerintah Daerah sebagaimana disampaikan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Langkat Tengku Muhammad Auzai. Pihaknya menyampaikan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan tersebut dan sinergi yang telah dijalin.

“Mendoakan Bapak/Ibu beserta masyarakat nelayan di Alur Dua Baru, insyaallah Bapak/Ibu selamat di perjalanan, sehat-sehat semua, ada kunjungan lagi semoga berjalan dengan lancar. Semoga Allah Subhanahu Wataala melindungi kita, memberikan kita kesehatan, untuk dapat bersama-sama lagi bekerja dan berusaha sesuai bidang kita masing-masing,” ujar Auzai.

Diberitakan sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, mendorong BRSDM untuk melakukan pelatihan dan penyuluhan bagi masyarakat serta bersinergi dengan pemerintah daerah agar dapat menciptakan wirausaha baru. Ia juga mengatakan, untuk terus melakukan pemetaan kompetensi sesuai yang diperlukan dunia usaha maupun dunia industri.

“Saya juga berpesan kepada para penyuluh perikanan, untuk terus berperan aktif mendampingi pelaku utama dalam melaksanakan kegiatan usaha kelautan dan perikanan termasuk dalam memfasilitasi akses pengetahuan, teknologi, dan bantuan permodalan,” ungkap Menteri Trenggono.

HUMAS BRSDM*

https://kkp.go.id/artikel/45738-kkp-terapkan-teknologi-kincir-untuk-tingkatkan-survival-rate-kepiting-soka

LANGKAT (7/10) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menerapkan teknologi kincir melalui sistem mutilasi kepiting untuk meningkatkan tingkat kehidupan (survival rate) biota bercangkang tersebut. Penerapan dilakukan di Tambak Mutilasi dengan kincir air kelolaan Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Mentari Asoka Abadi di Langkat.

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) KKP I Nyoman Radiarta mengatakan, penerapan teknologi kincir tersebut melibatkan para penyuluh perikanan yang ada di bawah BRSDM KKP pada Selasa 4 Oktober lalu.

“Peran pelatihan dan penyuluhan menjadi sangat penting sekali tentunya untuk mengawal menjadikan masyarakat mendapat pengetahuan yang lebih baik dalam melakukan praktik di lapangan, yang dapat dilakukan melalui pelatihan dan tentunya ada percontohan. Oleh sebab itu di sini merupakan salah satu percontohan penyuluhan perikanan, khususnya untuk budidaya kepiting soka,” ujar Nyoman saat membuka kegiatan Temu Lapang Percontohan Penyuluhan Perikanan Budidaya Kepiting Soka (scllya serrata) di lokasi.

“Kalau percontohan pelatihan dan penyuluhan tentunya harus ada inovasi yang masuk dan teknologi baru yang diajarkan kepada pembudidaya. Teknologi introduksi yang diberikan di lokasi ini yaitu menggunakan kincir melalui sistem mutilasi kepiting sehingga diharapankan dapat meningkatkan tingkat kehidupan survival rate kepiting. Mutilasi berfungsi untuk mempercepat molting dari kepiting. Tadi saya sempat diskusi dan tanya-tanya dengan Pak Adrial (Ketua Pokdakan) itu panennya setiap hari. Ini menggerakkan ekonomi sangat sangat cepat sekali. Setiap hari bibit datang setiap hari molting setiap hari panen dengan menggunakan teknologi yang ramah lingkungan,” tambahnya.

Menurut Nyoman, kegiatan tersebut mendukung program prioritas KKP dalam membangun kampung perikanan budidaya, khususnya yang ada Langkat yang telah ditetapkan oleh KKP. Sekaligus mewujdukan program unggulan BRSDM yaitu SMART Fisheries Village (SFV). SMART sendiri merupakan singkatan dari Sustainable, Modernization, Acceleration, Regeneration, and Technology.

Senada dengannya, Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Puslatluh KP) BRSDM Lilly Aprilya Pregiwati mengatakan, pada 2023 sebagaimana program unggulan BRSDM, Puslatluh KP melalui Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Medan mengusulkan lokasi percontohan ini menjadi SFV. Untuk itu, sedang dilakukan identifikasi potensi SDA, SDM dan sumberdaya penunjang untuk usulan lokasi SFV tahun 2023 bersamaan dengan kegiatan temu lapang percontohan ini,

Dilaporkan Lilly, Percontohan Penyuluhan memiliki beragam tujuan. Pertama, memberi contoh inovasi metode budidaya kepiting soka dengan sistem mutilasi di tambak dengan penambahan kincir air di tingkat lapangan. Kedua, meningkatkan produktivitas dan pendapatan pelaku budiadaya khususnya anggota Pokdakan. Ketiga, mempercepat adopsi teknologi sistem mutilasi dalam budidaya kepiting soka untuk meningkatkan hasil produksi dan memenuhi kebutuhan pasar. Keempat, menjadikan Pokdakan Asoka Abadi sebagai percontohan untuk para pelaku perikanan.

Waktu pelaksanaannya dimulai sejak April 2022, dengan tahapan terdiri dari pengusulan proposal percontohan, penentuan lokasi percontohan, pengadaan bahan percontohan, pembangunan sarana dan prasarana, proses budidaya/produksi, temu lapang, serta bimbingan tindak lanjut.

“Budidaya budidaya kepiting soka telah berjalan dan panen empat siklus dan hari ini panen siklus kelima yang akan dijelaskan oleh penyuluh perikanan dan pelaksana kegiatan percontohan,” ungkap Lilly.

Kegiatan temu lapang percontohan tersebut diselenggarakan secara hybrid, yaitu luring di Desa Alur Dua Baru, Kecamatan Sei Lepan, Langkat, serta daring melalui aplikasi zoom dan live streaming youtube di channel BPPP Medan. Masyarakat masih dapat menyaksikannya melalui tautan https://www.youtube.com/watch?v=6J1Ce4H31Q4.

Kegiatan ini mendapat apresiasi dari Pemerintah Daerah sebagaimana disampaikan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Langkat Tengku Muhammad Auzai. Pihaknya menyampaikan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan tersebut dan sinergi yang telah dijalin.

“Mendoakan Bapak/Ibu beserta masyarakat nelayan di Alur Dua Baru, insyaallah Bapak/Ibu selamat di perjalanan, sehat-sehat semua, ada kunjungan lagi semoga berjalan dengan lancar. Semoga Allah Subhanahu Wataala melindungi kita, memberikan kita kesehatan, untuk dapat bersama-sama lagi bekerja dan berusaha sesuai bidang kita masing-masing,” ujar Auzai.

Diberitakan sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, mendorong BRSDM untuk melakukan pelatihan dan penyuluhan bagi masyarakat serta bersinergi dengan pemerintah daerah agar dapat menciptakan wirausaha baru. Ia juga mengatakan, untuk terus melakukan pemetaan kompetensi sesuai yang diperlukan dunia usaha maupun dunia industri.

“Saya juga berpesan kepada para penyuluh perikanan, untuk terus berperan aktif mendampingi pelaku utama dalam melaksanakan kegiatan usaha kelautan dan perikanan termasuk dalam memfasilitasi akses pengetahuan, teknologi, dan bantuan permodalan,” ungkap Menteri Trenggono.