Polemik Kunjungan Kerja Jokowi Di NTT Murni Tugas Kepada Negara Yang Konstitusional Itu Sah

Kunjungan Presiden Joko Widodo di Maumere, Nusa Tenggara Timur itu memperlihatkan video yang mana Jokowi berada dalam kerumunan masyarakat viral di media sosial.

Presiden Jokowi pada hari Selasa, 23 Februari 2021, berkunjung ke NTT untuk meresmikan Bendungan Napun Gete di Kabupaten Sikka setelah meninjau area lumbung pangan di Desa Makata Keri, Kecamatan Katiku Tana, Kabupaten Sumba Tengah, NTT.

Video yang kurang lebih berdurasi 30 detik itu menampilkan Jokowi berkemeja putih dan menggunakan masker hitam kemudian melambaikan tangan kepada massa melalui atap mobil, dan menimbulkan keramaian bahkan riuh masyarakat.

Tentu kunjungan kerja ini membuat masyarakat NTT mengekspresikan luapan emosi kecintaannya kepada Jokowi sebagai presiden dan kepala negara disambut antusias, meriah dan panuh rasa bangga yang sangat tulus. Antusiasme itu sendiri dinilai wajar karena NTT pada Pilpres 2019 lalu sebanyak 90% masyarakatnya memilih Jokowi sebagai Presiden.

Di pihak lain, muncul polemik pro dan kontra menanggapi fenomena tersebut. Ada pihak yang kontra dan berpresepsi lain terhadap rakyat yang menyambut Jokowi dengan sikap pesimis dengan alasan masih dalam situasi pandemi Covid-19.

Sangat tidak tepat dan relevan bilamana ada elemen masyarakat yang bersikap reaktif atas dugaan kerumunan massa pada kunjungan kerja Jokowi ke NTT dengan membangun narasi yang tidak bijak dan tepat hingga sampai dilaporkan kepada pihak kepolisian. Bahkan, fenomena kerumunan Jokowi di NTT dibandingkan dan disejajarkan dengan kerumunan Habib Rizieq Shihab di Petamburan dan Mega Mendung.

Bila dibandingkan dengan kerumunan massa yang dilakukan oleh Rizieq Shihab baik di Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, dan di Mega Mendung, Jawa Barat, sangat jauh berbeda dari konteks, tujuan dan maksud kemanfaatan. Peristiwa Jokowi disambut antusias warga di NTT memang sama seperti yang dialami Habib Rizieq Shihab ketika pulang dari Arab Saudi, yang membedakan adalah bahwa yang terjadi di NTT adalah spontanitas. Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin, berkata, “Itu spontanitas Presiden untuk menghargai antusiasme masyarakat, souvenirnya itu buku, kaus, dan masker.”

Dr. Tirta, sebagaimana dikutip dari instagramnya juga membela Jokowi dengan mengatakan “Pak Jokowi tidak sama sekali mengajak berkumpul, apalagi bikin promo, bikin undangan, bikin tiket, apalah. Semua pure antusias yang ramai-ramai datang menyambut presiden, ini tugas protokoler mengatur keramaian. Dan emang kalah jumlah,”.

Sebagai sesama anak bangsa marilah sama-sama mendukung kinerja positif pemerintah dalam memajukan negara ini untuk kemajuan, kebiakan dan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Kunjungan kerja kenegaraan yang dilakukan oleh Presiden Jokowi merupakan tanggungjawab kepada negara dan rakyat untuk mewujudkan Indonesia Maju.(Bar)

Leave a Reply

Your email address will not be published.