Sidang Pertama Gugatan Cerai Jaksa TP Simorangkir, Tanpa kehadiran Kuasa Hukum Dan Tergugat

Sidang pertama atas gugatan Jaksa Theo Simorangkir (TPS) terhadap Margaretha Sihombing sebagai tergugat digelar di ruang Mudjiono PN Jakarta Pusat, Selasa (23/11/2021).

Gugatan Perceraian trrdaftar dengan nomer 655/Pdt.G/2021/PNJkt.Pst.
Sebagai Majelis Hakim Ketua yang menyidangkan adalah Dariyanto,SH.MH dan Paniteranya adalah Agustinus Endro Cheristiyanto,SH,MH.

Hadir pada sidang pertama ini yaitu Pengacara dari pihak penggugat ( Jaksa TP Simorangkir ) dan orang tua dari penggugat DR.Djonggi Simorangkir SH,MH dan 2 kerabat dekatnya.
Sedangkan dari Pihak tergugat (Margaretha Sihombing) dan kuasa hukumnya tidak ada hadir.

Menurut kuasa hukum dari Jaksa TP Simorangkir, bahwa Surat Ajakan bersidang telah dilayangkan ke alamat rumah Margaretha Sihombing (tergugat), namun nama dan alamat tergugat sudah tidak disitu lagi.

Ketika awak media mewawancarai Sudarta Siringo ringo selaku kuasa hukum Penggugat Jaksa Theo Simorangkir usai sidang menerangkan bahwa surat yang dilayangkan/ dikirim bukan salah alamat karena secara hukum alamat itu berdasarkan KTP. Karena alamatnya Margaretha Sihombing tertera di KTP yaitu di Jalan Cik Ditiro Gondangdia Menteng Jakarta.

” Tergugat hingga saat ini tidak tahu dimana keberadaannya. Dia pindah-pindah bahkan pernah juga tinggal di Kembangan dan sekarang kita tidak tahu alamat pastinya dimana, ” Terang Sudarta Siringo ringo.

Sidang berikutnya akan dilaksanakan 1 minggu lagi, pada Selasa depan (30/12/2021), tetap Kita akan buat alamat Menteng Jakarta, walaupun alamat tergugat tidak diketahui, serta kita juga meminta kepada Majelis Hakim agar segera diiklankan Korannya melalui Pengadilan.

“Kita tidak tahu keberadaan tergugat saat ini, apakah di Jakarta atau di luar Jakarta, bahkan atau di luar negeri”, Tambah Sudarta Siringo ringo.

Ketika disinggung mengenai inti gugatan cerainya Djonggi Simorangkir selaku orang tua dari pihak penggugat mengatakan, ” Secara agama Kristen, Kami dilarang bercerai, Namun putra Saya ( TP Simorangkir) hampir 2 tahun sudah tidak serumah lagi dengan istrinya (Margaretha Sihombing) , ini Margaretha Sihombing adalah putri tokoh Gereja ( Mantan Sekjen Ephorus HKBP) pergi bersama ke 2 cucu saya, hingga sekarang tak ada kabarnya.
Sebenarnya orang kristen itu tidak boleh menggugat cerai, itu dilarang agama cuman yang menjadi pertanyaan besar kalau putrinya seorang mantan Sekjen HKBP dan yang katanya dia itu pendeta tapi kalau menurut saya Mori Sihombing itu bukan pendeta lagi. Karena dia tidak benar-benar menjalankan perintah Tuhan, sebab kalau dia pendeta, itu pada saat Dia memberkati jemaatnya, itu biasanya ditanyakan, apakah kamu bersedia dalam suka dan duka baik kepada laki-laki ataupun kepada perempuan, itu adalah ucapan sumpah dihadapan Tuhan YME bagi ke 2 pengantin saat pernikahan yang kudus.

Sementara itu sampai sekarang, Saya orang tua dari pada TP Simorangkir, tidak tahu masalah ini masalah apa, sebab pesan atau Whats-up serta kontak saya ke Pendeta Mori Sihombing ini selaku besan saya tidak mau dibalas, Lalu saya minta kepada 6 orang pendeta anggota HKBP untuk mendamaikan, tapi dicuekin.

” Lalu kepada siapa lagi, Saya minta tolong ” Jelas Djonggi Simorangkir.

Jadi terpaksa diajukan gugatan cerai,ini mungkin atas permintaan pendeta Mori Sihombing selaku besan saya, dan juga permintaan menantu saya Margaretha Sihombing. Kenapa saya katakan atas permintaan? Tidak dinyatakan atau menyatakan minta diceraikan, menantu saya Margaretha itu disuruh pulang tidak mau pulang, orang tuanya juga selaku pendeta, itu harusnya tahu, masa tidak menyuruh anaknya pulang?.

Berarti ini kan permintaan secara terselubung atau tidak langsung, namun tersirat walaupun tidak tersurat. Secara tidak langsung,Ya tidak mungkin dong menunggu perempuan seperti itu anak saya jadi sia-sia dan terkatung-katung Padahal dia seorang Jaksa di Bandung Jawa Barat.

” Selain itu Saya juga belum punya cucu keturunan laki-laki yang menjadi penerus Marga Simorangkir. Sebagai generasi orang Batak, ” Tambah Djonggi Simorangkir.

Jadi kalau memang dia sudah tidak mau lagi kepada anak saya karena disuruh pulang juga tidak mau pulang, ya sudahlah, awalnya Kan kenal baik-baik, pisah pun baik-baiklah dengan cerai begini. Setelah statusnya menjadi janda, kan mantu saya itu bisa bebas, mau kemana juga terserah dia, apakah mau kawin lagi? Karena saya beli dia sekitar 6 tahun yang lalu yaitu seharga 250 juta rupiah.

” Mungkin bisa dijual nantinya lebih mahal lagi, ” gurau Djonggi Simorangkir dengan tersenyum.

Dalam prosesnya kan nanti akan ada dilakukan mediasi, mungkin lewat Zoom dan apakah akan dilakukan perdamaian atau bagaimana oleh Majelis Hakim, kita tunggu dan jalani saja.

Kalau masalah kehidupan suami istri, ini TP Simorangkir adalah anak pertama saya, kalau istrinya tidak mau pulang pun lebih hampir 2 tahun, selama ini kemana aja dia. Anak saya sebagai suaminya juga tidak tahu kemana dia dan keberadaannya.

Kalau dia orang benar, ya pulang dong ke rumahnya, tapi hingga kini kita tidak tahu jelas tempat dan keberadaannya di mana. Terakhir Dia (mantu saya) masih datang pada tanggal 5 Januari 2021 meminta kepada anak saya TP Simorangkir, agar kedua putrinya itu yang notabennya cucu saya itu hendak di bawanya ke Bekasi yaitu rumah orang tua Margaretha Sihombing. Tapi dengan catatan tanggal 15 Januari atau 10 hari akan dipulangkan kembali. Ternyata hingga saat ini Pendeta Mori Sihombing dan Margaretha Sihombing ingkar janji.
Padahal saat itu alasannya untuk merayakan cucu pertama saya yang saat itu berulang tahun yang ke-4,Pada bulan Februari lalu. Termasuk cucu saya yang kedua berulang tahun yang ke-2.

Mereka merayakan ulang tahun ke 2 cucu saya tersebut tapi bapak kandungnya TP Simorangkir (Jaksa) tidak bisa ketemu, ironisnya untuk berhubungan cara video call pun tidak bisa. Bahkan kalau mau ditemuin pun tidak tahu dimana keberadaannya.

Saya mengagumi Pendeta, Kiai, atau pemuka agama lain karena kelakuannya baik budi, namun berbeda dengan pendeta Mori Sihombing, ini ibarat jauh panggang dari pada api. Terus terang Saya kecewa kepada semua itu, Karena dia datang kepada saya meminta untuk menjadi besan cara baik-baik tapi sekarang dia tidak tanggung-jawab .

” Ibarat pepatah saya katakan, Kau yang memulai kau yang mengakhiri,” Tutup Djonggi Simorangkir.