PFN Bersama Insan Pers Nasional Hendak Mencerahkan , Mendidik Dan Menghibur Indonesia

Membuka kompleks perkantoran Perum PFN kepada publik di luar CV kalangan perfilman, bukan saja merupakan suatu kebijakan guna menimbulkan kesadaran akan pentingnya peran negara dalam pengadaan film yang bermutu dan bernilai pendidikan, serta berpijak pada kebudayaan nasional.

Inisiatif mengijinkan pagelaran the last IDEAL PARADISE oleh seniman ternama Claudia Bosse di beberapa studio dan area komplcks PFN, juga membuktikan komitmen Perum PFN dalam perannya membangun manusia Indonesia seutuhnya, dalam hal ini melalui seni dan budaya.

“the last IDEAL PARADISE adalah sebuah instalasi dan karya spesiflk-lokasi yang diselenggarakan Goethe-Institut Indonesien,” ujar Direktur Utama PGN Judith J. Dipodiputro, kepada Insan Pers di Studio PFN, Jakarta, (21/2/2020).

Dia katakan, Film adalah suatu bentuk kesenian, dan kesenian merupakan bagian dari budaya. Manusia yang utuh, idealnya mempunyai keterminatan pada budaya secara utuh pula.

“Tidak saja mengapresiasi film, tetapi juga melengkapi diri dengan keterminatan pada bentuk seni lainnya, khususnya yang berinteraksi langsung antar-manusia, semisal teater dan pertunjukan hidup lainnya,” ujarnya.

Direktur Utama Judith J. Dipodiputro juga menjelaskan tentang alasan mendukung pagelaran yang merupakan hasil kerjasama seniman dari 4 negara, di mana di Indonesia dilaksanakan di Kompleks Perum PFN ini.

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sesungguhnya juga mencakup keadilan dalam akses pada hiburan yang mencerahkan, mendidik dan berkualitas. Keterbatasan jumlah layar di seluruh Indonesia, dengan harga tiket menonton film yang relatif tidak tenangkan oleh
sebagian besar masyarakat, mendorong Perum PFN mencari solusi yang sekaligus bisa menjadi peluang bagi kaum millennial.

Perym PFN telah mengubah Studio 3 menjadi inkubator start-ups bidang film, sebagi tempat belajar sekaligus praktek mengelola Bioskop Rakyat.

Saat ini di Indonesia baru ada 2000-an layar, sementara kebutuhan keseluruhan nya hampir 10.000 layar di 521 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Minat nonton film Indonesia setiap
tahunnya terus meningkat. Ini waktunya bagi anak muda Indonesia untuk dapat berkrmsi dan berkarya dalam dunia industri perfilman.

“Belajar dari sukses pelaksanaan percobaan Bioskop Rakyat di Gedung Jasindo, Kota Tua yang dibuka selama berlangsungnya Festival Perempuan dalam Film, Seni dan Budaya pada Desember 2019 lalu, kami melihat bahwa konsep Bioskop Rakyat bisa dilanjukan di tempat lain. Salah satunya adalah di studio PFN. Fasilitas yang ada di PFN memungkinkan bioskop rakyat ini berkesinambungan. Kami berharap program ini bisa menjadi inkubator lahirnya Bioskop Rakyat , di tempat lain, yang dikelola oleh para pecinta film atau komunitas Film “ ujar Erwin Amada.

Inisiatif mendekatkan Kompleks Studio dan Kantor Pusat Perum PFN kepada masyarakat, juga terkait dengan rencana kerjasama antara PT WIKA Realty dengan Perum PFN diatas lahan seluas 2 hektar milik PFN, ini dimana akan dibangun sebuah kompleks dengan 4 Studio Produksi Film dan Creative Hub yang rencananya siap pada 2023.

Silaturahmi dengan insan pers ini ditujukan untuk memperat hubungan sekaligus mendapatkan masukan tentang ekspektasi masyarakat atas produksi film Perum PFN“. Ujar Rita M. Darwis .

Leave a Reply

Your email address will not be published.