Pemkot Jakut Terapkan Gerakan Pengurangan Sampah Plastik

Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara makin gencar melakukan berbagai upaya dalam mengurangi penggunaan sampah plastik. Hal itu sesuai dengan Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 107 Tahun 2019 tentang pengurangan dan pemilahan sampah di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Wakil Wali Kota Jakarta Utara, Ali Maulana Hakim menghimbau kepada pegawai, pelajar dan masyarakat Jakarta Utara untuk membawa tumbler dan peralatan makan dalam beraktivitas di keseharian. “Mulai dari sekarang dan seterusnya kita harus menghindari penggunaan sampah plastik yang dapat mencemari lingkungan,” tegasnya di Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Selasa (11/2).

Ia juga menyampaikan kepada seluruh kantor pemerintahan, sekolah dan fasilitas kesehatan di wilayah Jakarta Utara untuk menyediakan wadah air minum isi ulang. “Kita harus saling mengingatkan kepada semua untuk ikut peduli terhadap upaya pengurangan sampah plastik. Membawa tumbler dan tempat makan sendiri dari rumah sebagai langkah awal yang harus diterapkan dalam keseharian,” terang Ali.

Upaya pengurangan sampah plastik juga mulai diterapkan di lingkungan Kantin Kantor Wali Kota Jakarta Utara yang setiap harinya melayani kebutuhan makan dan minum para pegawai dan tamu yang berkunjung. “Kami sudah disosialisasikan oleh petugas dari Sudin Lingkungan Hidup Jakarta Utara mengenai pentingnya mengurangi sampah plastik dikehidupan sehari-hari,” tutur Sri Umiyati, penjual jus aneka buah di Kantin Kantor Wali Kota Jakarta Utara.

Langkah Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara untuk mengurangi sampah plastik mendapatkan dukungan dari para penjual kuliner yang ada di kantin. “Intinya kami mendukung langkah tersebut. Dulu, saya pakai gelas plastik untuk tempat jus tapi sekarang sudah menggunakan gelas kertas ramah lingkungan ukuran 16 cm yang bisa dibeli di online shop. Saya sudah membeli 1.000 gelas seharga Rp 600 ribu untuk stock jualan jus,” ucapnya.

Kendati harga gelas ramah lingkungan tergolong lebih mahal namun tidak menjadi permasalahan bagi ibu Sri yang sudah berjualan jus di kantin sejak tahun 2009. Selain tidak lagi menggunakan gelas dan sedotan plastik, ia juga akan mengupayakan untuk tidak memakai kantong plastik. “Biasanya saya jual Rp 15 ribu pergelas tapi sekarang naik seribu jadi Rp 16 ribu karena memakai gelas kertas ramah lingkungan. Alasan kenaikan harga ini langsung saya sampaikan ke pembeli dan mereka tidak keberatan,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.