Jaga Keberlanjutan Ikan Banyar, KKP Lakukan Riset Populasi

 

 

Ikan Banyar (Rastrelliger kanagurta) merupakan jenis ikan pelagis peruaya jauh yang berperan penting dalam industri perikanan dan mendukung mata pencaharian masyarakat di sekitar pesisir. Namun demikian, penurunan biomassa di alam menjadi tantangan besar bagi keberlangsungan hidup ikan banyar.

Atas dasar tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Loka Riset Perikanan Tuna (LRPT) – Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP), melakukan riset dan inovasi yang bertujuan untuk mengidentifikasi struktur populasi ikan banyar di perairan selatan Jawa hingga Bali dengan menggunakan analisis bentuk otolith. Otolith sendiri memiliki peranan penting dalam kajian stok dan struktur hasil tangkapan ikan sehingga keberadaan sumber daya perikanan dapat diatur dan dikelola secara berkelanjutan.

Sebagaimana disampaikan Kepala BRSDM, Sjarief Widjaja, bahwa hasil riset dan inovasi BRSDM harus dapat mendukung terwujudnya tiga program prioritas KKP, sebagaimana digaungkan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono yakni peningkatan PNBP dari sumber daya alam perikanan tangkap, pengembangan perikanan budidaya didukung riset, dan pembangunan kampung-kampung perikanan berbasis kearifan lokal.

“Kita harus punya program cerdas untuk atasi berbagai hambatan, dengan percepatan arus komunikasi melalui riset dan inovasi serta bekerja secara efektif dan efisien. Sumber daya kelautan dan perikanan¬† telah menjadi tumpuan dan masa depan bangsa. Dengan riset dan inovasi, kita dapat menggali potensi tersebut demi mewujudkan kesejahteraan rakyat, kelestarian sumber daya kelautan dan perikanan, serta meningkatkan peran sektor kelautan dan perikanan dalam pembangunan ekonomi nasional,” tegas Sjarief.

Peneliti LRPT, Arief Wujdi, menjelaskan bahwa otolith merupakan tulang telinga ikan. Otolith secara permanen juga dapat menyajikan sejarah hidup dan lingkungan sehingga mampu menginterpretasikan parameter lingkungan seperti temperatur dan salinitas (kadar garam). Otolith juga merupakan organ yang dapat digunakan untuk mengetahui umur, pertumbuhan dan proses migrasi reproduksi.

“Secara keseluruhan, 159 sampel otolith dikumpulkan dari 4 lokasi yaitu Palabuhanratu, Pacitan, Muncar, dan Kedonganan pada periode 2016 dan 2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata bentuk otolith bervariasi antar populasi. Secara visual, variasi dapat ditemui pada berbagai bagian otolith yaitu: excisura major, postrostrum dan pararostrum,” terang Arief.

Lebih lanjut disampaikan, adanya variasi bentuk otolith antar populasi dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Faktor lingkungan yang turut mempengaruhi variasi bentuk otolith adalah pergerakan arus di selatan Jawa dan Bali, di mana pergerakan arus dari timur ke barat lebih dominan sehingga memungkinkan percampuran antar populasi di Selat Bali dan Pacitan, serta Pacitan dan Palabuhanratu.

Terjadinya upwelling, yang dimulai pada bulan April di selatan Bali dan Lombok kemudian bergerak ke arah barat hingga melemah pada bulan November di perairan selatan Jawa Barat, turut mendukung pergerakan Ikan Banyar dikarenakan tersedianya nutrisi yang mencukupi. Namun demikian, melemahnya intensitas upwelling di bagian selatan Jawa Barat sekaligus menjadi faktor pembatas pergerakan ikan sehingga memisahkan populasi antara kelompok barat dan timur.

“Penelitian ini memberikan perspektif baru dalam pengkajian stok, di mana pemetaan struktur populasi yang menyusun stok secara keseluruhan perlu dilakukan sebagai prasyarat utama sebelum melakukan penilaian kondisi stok, terlebih lagi jika masing-masing populasi mempunyai kontribusi yang berbeda-beda. Penelitian ini juga membuka pintu bagi penelitian-penelitian serupa dengan pendekatan yang murah dan cepat, khususnya jika dilakukan secara rutin pada berbagai jenis-jenis ikan pelagis yang tersebar secara luas,” paparnya.

 

 

 

Oleh karena itu, penelitian identifikasi struktur populasi perlu dilanjutkan di masa mendatang dengan menggabungkan beberapa pendekatan guna memperoleh hasil yang komprehensif. Penelitian juga dapat diperluas pada jenis-jenis ikan peruaya lainnya yang sebarannya meliputi perairan atau wilayah negara yang berbeda sehingga pengelolaan perikanan secara bersama-sama dalam Organisasi Pengelolaan Perikanan Regional/Regional Fisheries Management Organizations (RFMOs) dapat terwujud dengan berbasis stok yang utuh dan lebih berkadilan.

Selengkapnya, mengenai identifikasi struktur populasi Ikan Banyar di Perairan Selatan Jawa dan Bali dengan Analisis Bentuk Otolith dapat disaksikan pada Sharing Session BRSDM di Youtube BRSDM TV atau pada link https://t.co/19nz5PfZq5 .(Sbr : HUMAS BRSDM)