Deklarasi Gerakan Soekarno Muda (GSM) Menyuarakan Amanat Penderitaan Rakyat

 

 

Pagi tadi bertempat di kopi jink pondok bambu jakarta timur Gerakan Soekarno Muda menyatakan Deklarasi yang berisikan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat) yang pernah di cetuskan oleh Bung Karno sendiri pada tahun 1964 di dalam pidato presiden, Jakarta (10/08)

Pemuda GSM mengutip tiga poin dari Tri sakti yang merupakan Dialektika dari Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera). Berdaulat dalam Bidang Politik, Berdikari dalam Bidang Ekonomi, dan Berkepribadian dalam Kebudayaan.

Menurut GSM point pertama dalam Tri Sakti sendiri yakni Berdaulat dalam Bidang Ekonomi yakni dalam hal ini adalah kemerdekaan yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 adalah jembatan emas untuk menuju kesejahteraan rakyat dan kemajuan peradaban bangsa. Dengan kemerdekaan yang hakiki adalah kedaulatan politik dan teritorial sebagai negara dan bangsa maka kita tidak mau didikte oleh negara dan bangsa manapun di dunia ini. Kita berdiri sama tegak dan sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia untuk membangun sebuah peradaban dunia yang didasarkan pada perdamaian abadi dan keadilan sosial. Konsistensi pada cita-cita kemerdekaan inilah yang membuat Bung Karno keras hati dalam menentang setiap intervensi negara-negara neo kolonialisme impefialisme (nekolim).

Poin kedua dari Trisakti yang di garis bawahi oleh GSM adalah Berdikari dalam bidang ekonomi menurunya dalam konteks Berdikari dalam Ekonomi, Bung Kamo megutarakan bahwa bangsa Indonesia harus bersandar pada Kekuatan, Dana, dan Tenaga yang memang sudah dimiliki ditangan kita yang digunakan semaksimalnya untuk Kemakmuran Rakyat. Dalam rancangan pembangunan ekonomi yang termanifestasi dalam Deklarasi Ekonomi (Dekon). Bung Karno menempatkan kedudukan rakyat sebagai Sumber Daya Sosial dan Sumber Daya Ekonomi dalam Pembangunan. Dalam Dekon tersebut Bung Karno mengatakan, “dalam melaksanakan revolusi di bidang sosial dan ekonomi selanjutnya, maka sesuai dengan hukum revolusikita harus mempergunakan sepenuhnya semua alat revolusi yang sudah kita miliki itu, dengan selalu melandaskan perjuangan kita pada potensi dan kekuatan rakyat”. Penegasan Bung Karno ini merupakan sebuah bentuk sikap dan terjemahan dari konsepsi politik berdikari. meletakkan potensi dan kekuatan rakyat Indonesia didalam menjalankan perencanaan pembangunan dan perekonomian.

Poin ketiga yang juga tidak kalah penting dalam Deklarasi GSM kali ini adalah Berkepribadian dalam Kebudayaan. Menurut GSM poin ini Bung Kamo menegaskan bahwa budaya kita ini kaya raya yang harus digali untuk pentingnya nilai-nilai kepribadian bangsa dalam kebudayaan. Pada tahun l960-an Bung Karno dengan tegas melarang peredaran lagu-lagu dari Barat yang dia sebut sebagai musik “ngak ngik ngok”, the beatles, literatur picisan, dansa-dansi gila-gilaan dan Menurut Bung Karno, musik dan produk kapital imperialis itu akan melemahkan semangat juang pemuda, menghancurkan kepribadian bangsa dan Bung Karno juga meminta kepada pemuda untuk terus giat bekerja.

Terkait kerjasama dengan negara-negara imperialis, Bung Kamo dengan tegas menolak dan mengatakan “Go to hell with your aid”. Pernyataan tegas Bung Karno ini sering kali diartikan sebagai sikap anti Bung Karno terhadap bantuan asing, modal asing, bahkan semua yang berkaitan dengan kerjasama asing. Bung Karno tidak anti kepada bantuan asing, modal asing maupun kerjasama dengan asing, tetapi Bung Karno anti kepada semua yang berbau asing tersebut, jika memiliki tendensi politik yang ingin mendikte Indonesia.

Sebagaimana sikap Bung Karno menolak bantuan pembangunan semanggi dari Amerika Serikat yang memiliki prasyarat bahwa Indonesia harus mengikuti kebijakan politik Amerika. Bung Karno menginginkan dalam menjalankan pembangunan nasional, pembangunan tersebut memiliki prinsip yang tidak menyandarkan diri kepada bantuan negara atau bangsa lain. Pembangunan tersebut harus bersandar pada jiwa “self reliance” jiwa percaya kepada kekuatan diri sendiri dan jiwa, “self help” berdiri diatas kaki sendiri.

Sikap Bung Karno ini bukanlah sikap yang anti bantuan, modal dan kerjasama asing, akan tetapi lebih pada penanaman sikap kemandirian dan manifestasi politik berdikari yang ingin dicapai oleh Bung Karno. Bung Karno tidak mengharamkan bantuan, modal dan kerjasama asing, tetapi lebih kepada menerima bentuk bantuan, modal dan kerjasama asing yang tidak bertentangan dengan arah politik dan tujuan revolusi Nasional serta berdasarkan sama derajat dan saling menguntungkan. Hal ini terlihat pada kutipan Bung Karno dalam pidato Nawasara.

Jelas dalam pidato Nawasara, bahwa tidak menyandarkan diri tidak berarti bahwa kita tidak mau kerja sama berdasarkan sama-derajat dan saling menguntungkan, dan hal ini juga termaktub dalam Dekon diatas yang menyatakan bilamana dengan kekuatan Fund and Forces Nasional tidak mencukupi, maka harus dicarikan Kredit luar negeri yang tidak bertentangan dengan politik kita.

Dari prolog diatas, kami (GSM) merasa perlu menyuarakan Amanat Penderitaan Rakyat (AMPERA) dalam deklarasi Gerakan Soekarno Muda (GSM) sebagai langka meneruskan perjuangan bung kamo, membela kepentinggan Rakyat Bangsa Indonesia dan Negara. Olehnya itu dalam deklarasi yang dimaksud, GSM akan menyampaikan pandangan dan butir-butir pemikirannya yang terwadahi dalam Gerakan Soekarno Muda (GSM) terkait dengan kondisi dan situasi bangsa dan negara Indonesia saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.