Bosan di Rumah? Budidaya Lobster Air Tawar Yuk!

 

 

Jakarta, Lobster air tawar telah menjadi salah satu komoditas perikanan yang sangat menjanjikan. Harga per kilogramnya dapat mencapai Rp200.000 – Rp300.000. Disamping itu, Lobster air tawar tergolong udang yang mudah dibudidayakan dan dapat dikembangkan dalam skala usaha kecil, dengan hanya memanfaatkan lahan yang ada di sekitar rumah tinggal.

Melihat peluang tersebut, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP) melalui Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Medan, memberikan pelatihan kepada masyarakat luas tentang bagaimana melakukan pembenihan Lobster air tawar. Terlebih di masa pandemi Covid-19, membudidayakan lobster, menjadi hal yang menarik untuk dilakukan.

Terdapat delapan poin penting yang patut  Anda pahami untuk memulai pembenihan Lobster air tawar, yakni  1. Wadah/media Pembenihan, 2. Sumber/kualitas air, 3. Pengendalian hama dan penyakit, 4. Memilih dan merawat calon induk, 5. Pemijahan Induk Lobster, 6. Proses penetasan telur, 7. Pemeliharaan benih, dan 8. Panen benih.

 

 

 

Poin pertama adalah wadah pembenihan. Dalam Pembenihan Lobster air tawar, terdapat beberapa wadah yang digunakan untuk pembenihan Lobster air tawar, yaitu akuarium; bak plastik atau fiberglass; dan kolam semen, dimana keseluruhannya membutuhkan peralatan pendukung. Penggunaan akuarium sebagai wadah pembenihan Lobster air tawar dapat disesuaikan dengan luas ruangan yang ada. Akuarium untuk Lobster air tawar dapat dibuat dengan panjang 1 meter, lebar 0,5 meter, dan tinggi 0,4 meter. Ketinggian maksimal air dalam akuarium 30 cm. Akuarium sebesar itu cukup untuk memelihara satu paket induk (5 betina dan 3 jantan) atau 100 ekor bernih ukuran 1 inci.

Untuk penggunaan bak plastik atau fiberglass, pada perinsipnya sama dengan penggunaan akuarium. Bahan fiberglass lebih tahan dari pada kaca akuarium yang mudah pecah. Namun, harganya lebih mahal ketimbang kaca akuarium. Sementara itu untuk kolam semen, membutuhkan biaya yang sangat besar. Karena itu, dalam budidaya Lobster air tawar skala rumah tangga, kolam semen hanya digunakan untuk tempat memijahkan induk untuk pembesaran. Ukuran kolam semen untuk pemijahan bisa dibuat 40 x 40 x 40 cm dengan ketinggian air sekitar 30 cm. Sementara itu, untuk kolam pembesaran bisa dibuat ukuran 2 x 1 x 1 m atau 1 x 1 x 1 m. Ketinggian air dalam kolam 30 – 40 cm. Kolam ukuran ini bisa digunakan untuk membesarkan benih ukuran 1 inci sebanyak 50 – 100 ekor.

Dalam pembenihan lobster air tawar baik di akuarium, bak plastik maupun kolam semen, dibutuhkan peralatan pendukung untuk menunjang keberhasilan pembenihan, diantaranya lubang persembunyian (pipa paralon, potongan bambu, genteng, ijuk, atau tali rapia) dan aerator sebagai pemasok oksigen dan menjaga kualitas air.

Poin kedua yakni sumber dan kualitas air. Sumber air yang bisa digunakan untuk memelihara Lobster air tawar adalah air tanah, air PAM dan air sungai. Dalam pelaksanaannya, penggunaan air tanah sebaiknya diendapkan terlebih dahulu selama 24 jam agar kadar oksigen yang terlarut di dalamnya meningkat. Agar proses pelarutan oksigen lebih cepat dapat digunakan aerator. Air tanah juga memiliki tingkat derajat keasaman (pH) yang cenderung asam. Sementara itu air PAM memiliki derajat keasaman yang relatif stabil. Namun air PAM mengandung zat klorin dan kaporit yang sangat tinggi sehingga sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup lobsters air tawar. Untuk itu, sebelum digunakan air PAM harus didiamkan dahulu selama 24 jam agar kaporit dan klorinnya menguap. Sedangkan air sungai memiliki pH yang stabil serta kandungan oksigen yang berlimpah. Bila menggunakan air sungai, lokasi budidaya harus berada dekat dengan bantaran sungai. Namun kualitas air sungai juga harus diperhatikan, jangan sampai air tersebut mengandung limbah, baik limbah rumah tangga maupun limbah industri.

Poin ketiga adalah pengendalian hama dan penyakit. Dalam proses pembenihan Lobster air tawar, hama yang sering menganggu adalah kucing dan tikus. Karena itu, pastikan agar media pembenihan terbebas dari jangakauan kedua hewan tersebut. Sementara untuk penyakit yang selama ini menyerang Lobster air tawar adalah jamur Saprolegnia dan Achyla, cacing jangkar, parasit Argulus foliceus

Untuk poin keempat yakni memilih dan merawat calon induk. Induk memegang peran penting dalam proses pembenihan, karena hasil anakan dipengaruhi oleh kualitas induk yang dipakai. Dalam pembenihan Lobster air tawar, umumnya pembudidaya memiliki lima paket induk yang terdiri dari 25 betina dan 15 jantan.  Calon induk yang berkualitas adalah yang pertumbuhaanya paling cepat, yang punya nafsu makan besar, gerakannya lincah, berwarna cerah  dan disarankan untuk tidak memilih Lobster air tawar yang berkepala besar dan tubuh kecil, karena itu menandakan kekurangan makanan.

Poin kelima adalah pemijahan induk. Calon Induk yang dipijahkan telah berusia 10 – 12 bulan atau saat panjang tubuhnya mencapai 15 – 17 cm. Induk jantan dan betina yang akan dipijahkan disatukan dalam akuarium berukuran 40 x 40 x 30 cm dengan ketinggian air 20 cm. Jumlah induk yang ditebar dalam wadah pemijahan tersebut adalah induk jantan 3 ekor dan induk betina 5 ekor. Dalam wadah pemijahan tersebut diberikan tempat persembunyian berupa pipa paralon. Jumlah dan ukuran tempat berlindung harus disesuaikan dengan jumlah dan ukuran induk. Proses pemijahan ditandai dengan terlihatnya telur di bagian abdomennya, selanjutnya induk betina di inkubasi ke wadah perawatan telur.

Poin keenam yaitu proses penetasan telur. Wadah penetasan telur yang digunakan adalah akuarium, bak plastik, atau kolam semen dengan ukuran 1 x 1 x 1 m dengan ketinggian air 0,5 m. Wadah sebesar ini bisa menampung 400 benih atau 2 ekor induk betina. Di dalam akuarium penetasan telur ini dapat diberi pipa paralon untuk persembunyian atau untuk tempat benih yang akan menetas. Selama proses pengeraman dan penetasan, suhu dan wadah harus tetap di jaga agar selalu stabil, karena telur sangat sensitif terhadap perubahan suhu.

Pada minggu pertama, telur berbentuk bulat dan masih berwarna kuning. Selanjutnya, telur akan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan mulai tampak bagian-bagian tubuh seperti mata dan kaki. Setelah satu bulan, semua bagian tubuh sudah terbentuk sempurna menetas. Pada bagian itu, sebagian anakan yang baru menetas masih menempel pada induk untuk mendapatkan nutrisi dari induknya. Selanjutnya, anakan-anakan tersebut akan terlepas dari induknya secara bertahap. Dalam waktu 2 – 3 hari, seluruh benih akan terlepas dari tubuh induknya. Bila dalam waktu tersebut masih ada benih yang menempel, sebaiknya dilepaskan dengan cara mengoyang-goyanngkan tubuh induk di dalam air secara perlahan.

Poin ketujuh adalah pemeliharaan benih. Benih yang baru menetas dipelihara dalam kolam penetasan selama 10 hari. Selanjutnya benih dipindahkan ke kolam pendederan untuk dipelihara selama 2 bulan. Usahakan juga agar benih tidak terkena langsung panas matahari, karena benih masih sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Setelah berumur 8 – 15 hari benih sudah mulai berbentuk seperti lobster dewasa yang memiliki cangkang kepala dan cangkang tubuh. Benih dapat diberi pakan tambahan setelah 1 minggu, berupa cacing sutra, tepung kacang, daging udang, atau pelet udang yang dihaluskan. Setelah benih lepas dari induknya, selanjutnya induk betina dipisahkan dari benih lobster ke wadah pemeliharaan induk, dan diberi pakan yang mengandung protein tinggi, sampai induk tersebut molting dan dapat dipijahkan kembali.

Poin terakhir yaitu panen benih. Benih yang bisa dipanen dan dijual adalah benih yang berumur 70 hari dengan panjang 5 cm. Selamat mencoba!