DPP GPP Menggelar Silaturahmi Dalam Rangka Konsolidasi Organisasi

Merujuk prinsip falsafah dasar bernegara (filoshopische grondslag) yang disampaikan oleh  Founding Father Bung Karno dalam pidatonya dihadapan Sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno menawarkan prinsip Kebangsaan; yakni Internasionalisme/Kemanusiaan; Mufakat/Demokrasi; Kesejahteraan Sosial dan Ketuhanan yang berkebudayaan yang beliau sebut sebagai lima dasar atau Pancasila. Lima prinsip dasar itulah kemudian menjadi sila-sila yang diwariskan saat ini dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai sumber hukum di negara kesatuan Republik Indonesia.

Hal ini menjadi sebagian dasar terbentuknya Gerakan Pembumian Pancasila (GPP). Demikian yang disampaikan Sekjen GPP, Dr. Syaifuddin, M.Si, CICS ketika menjawab pertanyaan wartawan saat digelarnya pertemuan silaturahmi DPP GPP dalam rangka suasana lebaran 2019, bertepatan dengan hari lahirnya bung Karno yang dilaksanakan bertempat di Perum Bumi Bekasi Baru, Jalan Kintamani C Nomor 86, Pengasinan Rawalumbu, Kota Bekasi Jawa Barat pada, Kamis (06/6/2019).

Dalam kegiatan silaturahmi tersebut dihadiri seluruh jajaran DPP GPP, yang dirangkai dengan konsolidasi organisasi. Pada kesempatan ini, penyampaian sekapur sirih dari anggota yang beragama Hindu, tentang damai dihati, damai di dunia dan damai untuk semua. Selanjutnya perwakilan dari Kristen Katolik, Protestan dan perwakilan dari penganut kepercayaan terhadap Tuhan YME, terkait suasana Iedul Fithri 1440 Hijriyah menjadikan suasana tampak lebih akrab penuh kekeluargaan.

Dalam pemaparannya Syaifuddin selaku sekretaris jenderal juga menyampaikan makna tentang arti kebaikan. “Hal ini tak terlepas dari tidak dipahaminya terkait substansi kebaikan itu sendiri, hingga berkembangnya Islam simbolik dalam dunia perpolitikan Indonesia hingga dapat diduga beresiko terpapar radikalisme,” kata Syaifuddin.

“Politik itu berjalan simetris dengan agama, dan harus dipahami jangankan kepada manusia, kasih sayang dan kebaikan adalah untuk semua makhluk hidup di alam semesta, selain sebagai makhluk sosial,” tuturnya.

Masih kata Syaifuddin, mulai adanya pergeseran bahwa cara berpikir, cara bersikap dan dalam mengambil tindakan dimasyarakat yang diluar implementasi Pancasila. “Maka intinya, Pancasila itu adalah universal. DPP GPP akan melaksanakan konsolidasi internal maupun eksternal organisasi yang saat ini tengah dimulai,” ujar Budi, sapaan akrab Sekjen GPP tersebut.

“Dibentuknya Gerakan Pembumian Pancasila bertujuan mereaktualisasi nilai-nilai Pancasila sebagai jatidiri bangsa Indonesia. Mampu menunjukan dimensi nasionalisme dan multi kultural serta menjaga eksistensi Indonesia sebagai negara kesatuan,” paparnya.

Syaifuddin juga berharap dengan berdirinya organisasi GPP, semua pihak baik individu maupun kelompok yang terlibat konflik atau gesekan sosial dan agama maka harus segera diselesaikan dan diakhiri, bersama-sama kembali dalam persatuan Indonesia.

“Dalam kondisi carut-marutnya suasana politik Indonesia pasca pemilu, identitas kita sedikit menjadi tidak jelas maka menjadi penting untuk merevitalisasi nilai pemahaman Pancasila dalam sebuah negara merdeka yang berdaulat serta berideologi Pancasila,” ungkap Syaifuddin yang merupakan Dosen Komunikasi Politik pasca Sarjana, Universitas Mercu Buana, Jakarta tersebut.

Selain itu, lanjut Syaifuddin nilai-nilai kearifan lokal wilayah nusantara yang terdiri dari berbagai etnis dan budaya, hal inilah yang menjadi ciri khas negara Indonesia terutama dalam pergaulan global dikancah internasional. “Indonesia sudah mulai diperhitungkan dalam segala hal melalui konteks pergaulan di dunia internasional,” pungkasnya.

Dr. Syaifuddin, M.Si, CICS merupakan putra daerah Sumbawa, Lombok dalam kehidupannya lebih fokus memikirkan kondisi bangsa Indonesia kedepannya, serta berkomitmen bumikan kembali Pancasila sebagai ideologi bangsa.

Sementara itu, Ketua Umum GPP, Dr. Antonius DR Manurung dalam kesempatan ini memaparkan terkait jajaran struktural DPP GPP yang meliputi 7 Ketua bidang, dengan 1 ketua yang membidangi kepercayaan terhadap Tuhan YME.

“Sinergitas harus terus dibangun, pengembangan SDM, soliditas dan loyalitas ditingkatkan. Karena saya akan menjadi kita, sedangkan kita bukan apa-apa,” imbaunya diplomatis. (Lala N/AZ).

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *