Terowongan Silaturahmi menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral Jakarta Untuk Membangun Toleransi Keagamaan

Jakarta, Untuk menghubungkan tali silaturahmi antara dua agama (Islam dan katolik) di Indonesia telah di bangun menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral Jakarta.

terowongan Silaturahmi dibangun dengan panjang tunnel 28,3 meter, tinggi 3 meter, lebar 4,1 meter dengan total luas terowongan area tunnel 136 m2 dengan total luas shelter dan tunnel 226 m2.

Terowongan Silaturahmi dibangun dengan memperhatikan keamanan dan keselamatan bangunan. Ia mengatakan, karena kedua bangunan rumah ibadah tersebut sudah sangat tua dan merupakan cagar budaya, sehingga konstruksi yang dibangun harus benar-benar dipastikan aman.

Istiqlal yang merupakan salah satu masjid terbesar di dunia dan kebanggaan Umat Islam Indonesia dibangun pada era Presiden Soekarno pada tahun 1961. Adalah arsitektur Frederich Silaban yang merancang bangunan berkapasitas 200.000 jamaah tersebut.

Sementara itu, Gereja Katedral resmi digunakan pada 1901. Gereja kebanggan Umat Katolik Indonesia tersebut dibangun dengan arsitektur neo-gotik. Gereja ini pernah menjadi korban pengeboman pada saat Malam Natal tahun 2000.

Terowongan Silaturahmi ini tersambung dengan basement parkir lantai 1 di Masjid Istiqlal yang dapat menampung 500 unit mobil. Kehadiran terowongan ini diharapkan dapat memudahkan jemaah kedua rumah ibadah ini untuk menggunakan lahan parkir secara bersama.

Terowongan Silaturahmi Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta
Sebagai mana diketahui, Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral hanya dipisahkan sebuah jalan kecil. Karena letaknya yang berdekatan, di beberapa kesempatan, jamaah dari Masjid Istiqlal ataupun Gereja Katedral saling bergantian menggunakan tempat mereka untuk parkir.

Dan jarak terdekat pintu masuk terowongan dengan Gereja Katedral Jakarta yakni 32 meter, hal ini guna memastikan keamanan struktur Katedral. Sementara jarak terdekat terowongan dengan gerbang Masjid Istiqlal adalah 16 meter.

Arsitektur terowongan ini dibangun dengan gaya modern di mana eksteriornya menggunakan material transparan sehingga kecantikan desain Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral yang merupakan bangunan cagar budaya tidak terhalang.

Kemudian untuk interiornya dilengkapi dengan konsep desain pilar berulang yang menggunakan material marmer serta dilengkapi dengan railing sebagai simbol jabat tangan. Selain tangga, terowongan ini juga dilengkapi dengan ramp/lift/difabel lift untuk menunjang fungsi sebagai bangunan publik

Di samping itu, Terowongan Silaturahmi akan dihiasi dengan galeri diorama yang menceritakan hubungan toleransi antar umat beragama di Indonesia.

Bentuk diorama ini akan tampil dalam bentuk relief maupun digital, di mana konten digitalnya dapat disesuaikan dengan tema yang ingin diangkat. Pada masing-masing pintu masuk, pengunjung juga akan diperlihatkan kutipan mengenai pentingnya silaturahmi baik dari sisi agama Islam maupun Katolik.

Terkait Terowongan Silaturahmi dua agama ini, hal ini pernah dibahas dalam diskusi lintas agama pada 11 Maret 2022 di Aula Masjid Istiqal Jakarta tentang nilai-nilai spritual kebangsaan nusantara dan acara ini dihadiri oleh 5 pemuka agama di Indonesia.

Dalam diskusi tersebut dibacakan beberapa pesan moral kebijakan dan harapan oleh Prof.Dr. KH. Nasaruddin Umar MA dan kemudian di tanda tangani oleh iman besar Masjid Istiqlal Prof.Dr. KH. Nasaruddin Umar MA, Romo Antonius Suryadi Pr, selaku Ketua Komisi Hubungan Antar Agama dan Kemasyarakatan Keuskuoan Agung, Jakarta., Bhikhu Dammasubbho Mahathera, Sesepuh Sangha Theravada Indonesia., dan Ida Rsi Wisesanatha, sesepuh Spiritual Hindu Bali., sera Eko Sriyanto Galgendu, Wali Spiritual Nusantara, yang juga mengharapkan agara pesan dan harapan ini tercapai dengan berpedoman pada ajaran keafrifan dari Ki. Hajar Dewantoro yang mengatakan bahwa Ing Ngarso Sung Tulodo (bahwa jika berada di depan sebagai pemimpin) hendaknya dapat memberikan contoh serta perilaku yang baik dan bijaksana.

Terowongan ini dibangun atas arahan Presiden Joko Widodo dan akan menjadi ikon kebhinekaan melengkapi tempat ibadah Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral.