Gerakan Nasional Perempuan Pendukung Kerukunan Dan Perdamaian ARJ Gelar Temu Wicara

Acara diskusi atau Temu Wicara dengan Tema “Krisus Keteladanan Menghambat Kemajuan Bangsa”dihadiri oleh Ir. HAIDAR ALWI Penanggung Jawab ARJ, Drs.Laksamana Pertama TNI (Purn) Bona Simangunsong, SE, Ester Mandalawati Ketua Jaya Perbangsa, Yesri Tandiseru,SE, Ketum Jaya Perbangsa, Serly Politon,SE sebagai Moderator.

Materi diantaranya mengenai KETELADANAN PANCASILA

Yakni disampaikan, ada baglan yang memudar di tengah pancaran terang bangsa Ini. Ada yang meredup dl antara sinar cahaya yang selama lnl membungkus negeri. Amat disayangkan, sesuatu yang memudar dan meredup itu justru merupakan baglan vital dari fondasl kebangsaan, yakni luruhnya karakter dan budi pekerti anak bangsa.

Sangat mudah kita menyebutkan contoh konkret lunturnya karakter bangsa itu di era kekinian. Meningkatnya radikalisme, Intoleransi, penyebaran berita bohong (hoaks), demagogi kebenclan SARA, kian redupnya lntegritas dan kesantunan, maraknya korupsi, termasuk pula aksi-aksi kejahatan yang kian bengis belakangan Inl, semua menjadi tontonan gratis yang sungguh memilukan.

Padahal, kita punya Pancasila, sebuah ldeologi yang telah menjadi kemufakatan bersama sejak negara ini didirikan, sebagai landasan, falsafah, serta nilai dalam kehidupan berbangsa. Suka atau tidak suka, negara ini berdiri dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai perekat. Sejarah membuktikan bahwa melalui Pancasila-lah bangsa yang majemuk dan multikultur ini bisa dlrekatkan hingga kinl.

Namun, barangkali, harus diakui juga bahwa nilai-nilal tersebut tak selalu mampu diteriemahkan dalam narasi dan konsep praktis yang mestinya mengikuti perkembangan zaman.

Akibatnya, tak perlu heran bila perilaku penyimpangan nilai kian banyak terjadi karena Pancasila tidak dapat terimplementasikan dengan sebenar-benarnya. Itu sebetulnya merupakan bahasa halus untuk menyebut bahwa Pancasila telah dilupakan sebagian masyarakat Indonesia.

Namun, harus kita ingat pula bahwa upaya menggaungkan nilai-nilai luhur Pancasila itu dan kemudian mengimplementasikannya dalam kehidupan bernegara dan berbangsa tak cukup hanya dengan cara-cara formal. Sejatinya, bangsa ini juga membutuhkan keteladanan, contoh yang nyata dan para pemimpin dan elite, sekurang-kurangnya dalam hati perilaku, integritas, dan tentu saja kekuatan karakter. Tak dimungkiri, saat ini kita krisis pemimpin autentik yang menyatu antara kata dan perbuatan.

Ketcladanan adalah contoh paling penting dalam peng-arus-utama-an Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Bila seorang pemimpm itu lakunya penuh noda, bagaimana anak muda bisa percaya tentang kebaikan Pancasila.

Dalam tataran yang Iebih praktis lagi, Internalisasi nilai-nilai Pancasila bisa dilakukan dari lingkup keluarga, misalnya dengan cara melatih anak berterima kasih, meminta maaf, atau mengucapkan minta tolong dan mau memberi pertolongan kepada anggota keluarga, tetangga, dan orang lain.

Apabila ketahanan keluarga itu berjalan, maka ketahanan nasional akan terbentuk. Kalau keluarga morat-marit, anak terkena narkoba, sudah mesti ketahanan nasional kita menjadi rawan.

Keteladanan keluarga menjalankan nilai luhur Pancasila akan lebih efektif bagi generasi muda sekarang, ketimbang menggunakan pendekatan indoktrinasi. Sebab, mereka Iebih senang cara-cara yang komunikatif, partisipatif, dan interaktif.

Contoh pengamalan Pancasila yang paling relevan dalam kehidupan masyarakat Indonesia sehari-hari adalah menerima perbedaan dan saling menghargai. Bila tidak dikenalkan nilai Pancasila secara intens, maka otomatis pola pikir anak bangsa terutama generasi muda akan terpengaruh, termasuk dalam cara mereka menjalankan toleransi beragama, antar suku, atau pemikiran tentang keadilan sosial.

Pemerintah diharapkan bisa mengawasi dan mengingatkan lebih intens lagi mengenai peIajaran Pancasila di lembaga pendidikan formal. Kalau kurikulum jelas, maka pelaksanaannya ini yang periu diawasi lagi.

Jadi alangkah naifnya ketika di usia dini anak-anak di sekolah diberikan pelayaran dan ilmu budi pekerti yang luhur ala Pancasila, tetapi di luar sana para pemimpin, elite. dan orangtua mereka justru terus mempertontonkan perilaku menyimpang dari nilai-niiai Pancasila.

lni sebuah paradoks yang tak boleh dianggap remeh karena boleh jadi malah akan membuat generasi muda menjadi kian apatis terhadap segala hal berbau Pancasila.

Karena itu, langkah besar harus dimulai dengan memperkuat pilar kebangsaan, yakni Pancasila harus mampu dihadirkan secara nyata di tengah-tengah masyarakat.Bukan hanya lantang dalam pidato-pidato bukan pula hanya dimasukkan kurikulum sebagai pelajaran moral di bangku-bangku sekolah. Sekali lagi, negeri ini lebih membutuhkan teladan untuk membumikan Pancasila daripada sekadar memformalkannya dalam pendidikan moral Pancasila.

.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *