Jaksa PN Jakarta Selatan Hadirkan Saksi Dalam Sidang Lanjutan Kasus Investasi Bodong

Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Rabu malam (3/3/2021), kembali menggelar sidang lanjutan, perkara penipuan investasi bodong Workshet PNL Solar Industri Fiktif dengan terdakwa Denny Kriswanto alias Donny Widjaya Bin Suryadi.

Sidang dengan agenda lanjutan pemeriksaan saksi, dipimpin Hakim Ketua Deddy Hermawan, SH, MH, didampingi dua hakim anggota yaitu Haruno Patriadi, SH, MH, dan Fauziyah, SH, MH.

Berbeda dengan persidangan sebelumnya, sidang kali ini digelar mulai sekitar pukul 22.30 WIB sampai selesai di ruang sidang Mudjono, SH (2) PN Jaksel.

Seusai sidang, saksi Ippiandi Mahmud seorang karyawan swasta yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) I Gde Eka Haryana, SH, saat dikonfirmasi reporter Fajarmetro.com mengaku ditanyai oleh Majelis Hakim terkait penggunaan dana Rp 6,9 Miliar.

“Memang ada pertanyaan soal dana tersebut, dan sudah saya jelaskan dengan sebenarnya sesuai fakta-fakta yang saya tahu,” katanya.

Lebih lanjut, Ippiandi juga membantah keterangan terdakwa bahwa dirinya sering bertemu dan menghubungi terdakwa Denny Kriswanto.

“Saya memantau perkembangan kerjasama yang dilakukan terdakwa dan korban, saya merasa ada kejanggalan, dan saya tetap pantau,” ujarnya.

“Tadi didepan Majelis Hakim saya bantah itu. Karena kenyataannya, sejak bulan Agustus 2019 saya sudah loss contact atau tidak bisa sama sekali menghubungi saudara terdakwa Denny Kriswanto. Tapi saya tetap pantau kerjasama yang ditawarkan, itu saja keterangan yang dia bantah, selebihnya keterangan saya yang lainnya si terdakwa tidak membantah,” imbuhnya menambahkan.

Sementara itu, Kuasa Pelapor, Restu Hermawan Akbar, SH, menerangkan bahwa posisi saksi pelapor dalam kasus penipuan berkedok investasi ini adalah sebagai perantara.

“Bapak Ippiandi ini adalah orang yang memperkenalkan dan menjembatani antara si terdakwa dengan korban. Namun dalam perkembangannya saksi mulai curiga dengan gelagat si terdakwa dalam bisnis tersebut,” katanya.

Oleh karena perbuatan si terdakwa, maka Kuasa Pelapor Restu menyebut kliennya dirugikan miliaran rupiah. Dia menegaskan dengan telah diperiksanya beberapa saksi sampai dengan malam ini, sangat jelas dan terang bahwa terdakwa telah melakukan tindak pidana penipuan sebagaimana diatur dalam Pasal 378 dan melakukan tindak pidana pencucian uang sebagaimana diatur dalam UU Tindak Pidana Pencucian uang.

“Sesuai bukti-bukti yang sudah terungkap di persidangan, harapan kami sebagai Kuasa Hukum Pelapor berharap agar Majelis Hakim menghukum seberat-beratnya terdakwa, agar terdakwa tidak mengulangi lagi perbuatannya. Karena terdakwa dengan jelas melakukan penipuan dengan bujuk rayu mengaku-ngaku sebagai menantu mantan Kapolri Timur Pradopo, dan menggunakan KTP Palsu, menggunakan workshett bisnis plan solar industri (proposal fiktif) sebagaimana terungkap pada sidang sebelumnya,” ucapnya.

Sedangkan pelapor bernama Afriadi mengatakan, “Sebelum persidangan hari ini majelis telah memeriksa saksi-saksi dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) terutama ada kaitannya dengan penggunaan E-KTP palsu. Kami bersama Ketua Umum LKBH Djoeang Indonesia Achmad Taufan Soedirjo sudah sepakat untuk komitmen mengawal perkara ini sampai selesai.”

Leave a Reply

Your email address will not be published.